Raven dinilai memiliki karakteristik permainan yang mirip sebagai penyerang tengah atau striker murni, sehingga lebih sesuai dengan skema yang disiapkan oleh Herdman.
BACA JUGA:Gelombang Kendaraan Listrik di Indonesia: Dominasi China Ancam Merek Jepang?
BACA JUGA:MoU Menhut dengan Jepang: Diplomasi Hijau hingga Penangkaran Komodo di iZoo Shizuoka
“Karena posisinya sama sebagai striker, maka pertimbangan itu yang diambil oleh pelatih,” ujar Sumardji dalam keterangannya.
Sementara itu, Ezra Walian lebih sering beroperasi sebagai penyerang sayap atau second striker.
Perbedaan peran ini menjadi faktor penting yang menjelaskan mengapa ia tidak masuk dalam daftar panggilan kali ini, meskipun secara statistik tampil lebih menonjol.
Keputusan ini sekaligus menjawab rasa penasaran publik terkait alasan John Herdman memanggil Jens Raven bukan Ezra Walian.
Dalam sepak bola modern, kebutuhan taktik dan kesesuaian posisi kerap menjadi faktor penentu utama dibandingkan sekadar statistik individu.
Di tengah perdebatan yang berkembang, publik diharapkan dapat melihat keputusan ini dari sudut pandang yang lebih luas.
Pelatih tentu memiliki visi dan strategi jangka panjang dalam membangun komposisi tim yang solid, termasuk dalam menentukan siapa yang layak mengisi lini depan Garuda.
Dengan agenda FIFA Series 2026 yang semakin dekat, menarik untuk menantikan apakah Jens Raven mampu membuktikan pilihannya di atas lapangan, sekaligus menjawab keraguan para suporter.