RADARCIREBON.COM – Upaya mewujudkan Kuningan swasembada beras terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Kuningan.
Salah satu langkah tegas yang kini diambil adalah memastikan seluruh penyuluh pertanian aktif turun ke lapangan dan mendampingi petani secara langsung.
Pemkab Kuningan menegaskan tidak boleh ada lagi penyuluh pertanian yang absen dari wilayah binaannya.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga tren surplus beras yang terus meningkat dalam dua tahun terakhir.
BACA JUGA:683 Jemaah Haji Kuningan Siap Berangkat, Ini Jadwal Kloter Pertama
BACA JUGA:Terungkap! Dukun Cabul di Kuningan Diduga Lecehkan 5 Korban: 3 Anak di Bawah Umur
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr Wahyu Hidayah, menegaskan bahwa keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh luas lahan maupun tingginya produksi, tetapi juga bergantung pada efektivitas pendampingan kepada petani di lapangan.
Menurutnya, penyuluh pertanian harus hadir secara nyata sebagai pendamping sekaligus pemberi solusi bagi petani dalam menghadapi berbagai persoalan budidaya maupun tantangan perubahan zaman.
“Penyuluh harus benar-benar hadir, aktif, dan menjadi solusi. Tidak boleh ada lagi yang tidak terlihat oleh petani,” tegas Wahyu saat kegiatan pembinaan penyuluh pertanian, Kamis 9 April 2026.
Kinerja sektor pertanian Kuningan memang menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, produksi padi Kabupaten Kuningan sepanjang 2025 mencapai 396.873 ton Gabah Kering Giling (GKG), setara dengan 254.435 ton beras.
BACA JUGA:BREAKING NEWS: Pohon Tumbang Timpa Mobil di Pangenan Cirebon
BACA JUGA:Pohon Tumbang Menimpa Truk di Cirebon, Sopir Asal Grobogan Syok
Sementara kebutuhan konsumsi masyarakat Kuningan hanya sekitar 134.191 ton per tahun. Dengan demikian, daerah ini mencatat surplus beras sebesar 120.244 ton.
Angka tersebut mengalami peningkatan signifikan dibandingkan surplus tahun sebelumnya yang berada di kisaran 93 ribu ton.
Kondisi ini semakin mengukuhkan posisi Kuningan sebagai salah satu daerah penyangga pangan strategis di Jawa Barat.