Tak hanya unggul dari sisi produksi tahunan, percepatan masa panen juga menjadi indikator positif keberhasilan sektor pertanian daerah.
BACA JUGA:Kecelakaan di Indramayu 1 Meninggal, Truk Terguling Timpa Motor dan Warung di Jalur Pantura
Hingga akhir Maret 2026, sebanyak 20.310 hektare atau sekitar 78 persen dari total 26.016 hektare lahan sawah di Kuningan telah dipanen.
Persentase tersebut dinilai lebih cepat dibanding sejumlah daerah lain yang baru memasuki masa panen pada April.
Capaian ini menunjukkan kesiapan Kabupaten Kuningan dalam menopang pasokan beras sejak awal tahun.
Meski demikian, Wahyu mengingatkan bahwa keberhasilan Kuningan swasembada beras tidak boleh membuat seluruh pihak lengah. Menurutnya, tantangan sektor pertanian ke depan akan semakin kompleks.
Ancaman perubahan iklim, fluktuasi pasar global, serangan hama, hingga risiko gagal panen menjadi tantangan nyata yang harus diantisipasi sejak dini.
Karena itu, peran penyuluh pertanian dinilai harus ditingkatkan, tidak sekadar menjadi pendamping teknis, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan di sektor pertanian.
“Penyuluh harus naik peran menjadi penggerak. Mereka harus mampu mengedukasi, memengaruhi, sekaligus memastikan petani siap menghadapi perubahan,” ujarnya.
Wahyu juga mengakui masih terdapat keluhan dari sebagian petani terkait minimnya pendampingan dari penyuluh di lapangan. Hal tersebut menjadi evaluasi serius bagi pemerintah daerah.
Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan karena dapat menghambat keberlanjutan produktivitas pertanian.
“Kita harus jujur, masih ada petani yang merasa belum didampingi. Ini peringatan keras dan tidak boleh terulang,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Pemkab Kuningan kini mendorong perubahan pola kerja penyuluh agar lebih proaktif, adaptif, dan solutif.
Penyuluh juga dituntut mampu mengikuti perkembangan teknologi pertanian modern serta memahami kebutuhan riil petani di lapangan.
Ada tiga poin utama yang menjadi fokus penguatan penyuluh, yakni peningkatan penguasaan pengetahuan pertanian, kemampuan membangun kepercayaan petani, serta integritas dalam menjalankan tugas.
Dengan tren surplus yang terus meningkat, Kuningan dinilai memiliki modal besar untuk menjaga konsistensi sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Barat.