CIREBON, RADARCIREBON.COM - Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk 'Penguatan Daya Saing UMKM Batik Ciwaringin melalui Branding Naratif dan Integrasi Marketplace Global'.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program World Class University Equity 2025 yang didanai oleh LPDP, dengan mitra sasaran Koperasi Anugrah Batik Ciwaringin.
Dalam pelaksanaannya, ITB berkolaborasi dengan Universitas Padjadjaran dan Telkom University.
BACA JUGA:Menkomdigi Tantang AI Innovation Hub ITB-Telkomsel Hadirkan Solusi Nyata bagi Masyarakat
Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas pelaku UMKM batik di Ciwaringin agar semakin adaptif terhadap perkembangan digital, mampu mengangkat nilai budaya lokal melalui narasi merek, serta memiliki akses yang lebih luas ke pasar nasional dan global.
Sebanyak 50 peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang menghadirkan narasumber dari ITB, Universitas Padjadjaran dan Telkom University.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini berlangsung dalam empat tahap pelatihan dan satu tahap pendampingan, dimulai pada November 2025 dan berakhir pada April 2026.
Materi pelatihan disusun secara bertahap dan aplikatif, mulai dari literasi digital, motivasi entrepreneurship, public speaking, manajemen usaha, time management, women empowerment, pengembangan produk dan motif, fotografi dan video produk, digital marketing, hingga storytelling.
Tri Hasdianto MDs mengungkapkan, program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas literasi digital pengrajin batik Ciwaringin agar mampu memanfaatkan teknologi informasi secara efektif.
"Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk mengembangkan branding naratif yang menekankan nilai budaya, filosofi motif, serta praktik ramah lingkungan dalam produksi batik," ungkapnya, Kamis 23 April 2026.
BACA JUGA:Dorong Birokrasi Kreatif dan Berkelanjutan, Bappelitbangda Kabupaten Cirebon Punya Inovasi Ini
Tidak hanya itu, dia mengatakan, program ini juga mendukung integrasi produk UMKM batik ke marketplace global guna memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan daya saing.
"Program ini mendorong pemberdayaan perempuan sebagai aktor utama dalam ekosistem pengrajin batik agar semakin mandiri secara finansial dan sosial.”
“Kegiatan ini diharapkan dapat menghasilkan model pendampingan digital UMKM berbasis budaya yang dapat direplikasi di sentra batik lain di Indonesia," katanya.
Dalam pelaksanaannya, dia menjelaskan, program ini menggunakan tiga pendekatan utama.
Pertama, Participatory Action Research (PAR), yang melibatkan pengrajin batik, koperasi, dan komunitas secara aktif dalam setiap tahap, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.
"Kedua, User-Centered Design (UCD), yang digunakan untuk merancang solusi digital seperti branding naratif, katalog online, dan integrasi marketplace berdasarkan kemampuan, pengalaman, dan konteks sosial para pengrajin. “
“Ketiga, pelatihan berbasis kompetensi, dengan materi modular yang berorientasi pada pencapaian keterampilan praktis," jelasnya.
BACA JUGA:Inovatif! Bappelitbangda Kabupaten Cirebon Perkuat Tata Kelola Pembangunan Berbasis Riset
Tahap pertama kegiatan dilaksanakan pada Sabtu 15 November 2025 silam, diawali dengan pembukaan dan penyampaian materi Literasi Digital oleh Dr Martha Tri Lestari serta Motivasi Entrepreneurship oleh Dr Sri Dewi Setiawati.
Tahap kedua berlangsung pada Sabtu 13 Desember 2025 lalu, dengan materi Manajemen Usaha oleh Refi Refaldi PhD, Time Management oleh Dr Anisa Diniati, serta Women Empowerment oleh Dr Lusy Mukhlisiana.
Pada tahap ketiga, yang dilaksanakan pada Sabtu 17 Januari 2026 peserta memperoleh pelatihan mengenai pengembangan produk (logo dan kemasan), pengembangan motif, serta foto dan video produk yang difasilitasi oleh tim narasumber ITB, yaitu Aulia Fajrianingtyas SDs MSn, Nadia Arfan SDs MSn, Tri Hasdianto MDs, Bima Nurin MDs, dan Dr Hendhy Nansha MSn.
Selanjutnya, tahap keempat diselenggarakan pada Sabtu 18 April 2026 melalui materi Digital Marketing oleh Dr Anisa Diniati dan Storytelling oleh Dr Martha Tri Lestari, yang kemudian ditutup dengan penutupan program.
Melalui program ini, ITB berharap Batik Ciwaringin tidak hanya semakin kuat sebagai produk budaya unggulan daerah, tetapi juga mampu berkembang sebagai UMKM yang adaptif, inovatif, dan kompetitif di era digital.
Kolaborasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi dalam menghadirkan kontribusi nyata bagi pemberdayaan ekonomi berbasis budaya di Indonesia. (rdh)