JAKARTA, RADARCIREBON.COM - Pemerintah terus memperkuat akses layanan kesehatan bagi masyarakat melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang kini telah menjangkau 100 juta penduduk Indonesia.
Program yang dilaksanakan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan tersebut dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun sistem kesehatan nasional yang lebih preventif, inklusif, dan merata hingga ke daerah.
Selain memperluas akses pemeriksaan kesehatan, CKG juga mempercepat deteksi dini berbagai penyakit sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, M Qodari mengungkapkan bahwa capaian tersebut menunjukkan besarnya antusiasme masyarakat terhadap program kesehatan yang dihadirkan pemerintah.
BACA JUGA:Wabah Hantavirus Mulai Terdeteksi di Sejumlah Negara, WHO Sebut Risiko Masih Rendah
Menurutnya, pelaksanaan CKG yang melibatkan lebih dari 10.000 puskesmas telah menjadi fondasi penting dalam pemerataan layanan kesehatan nasional.
“Sepanjang tahun 2025, CKG telah melayani lebih dari 70 juta peserta. Memasuki tahun 2026 sampai dengan awal Mei 2026, jumlah tersebut telah bertambah lebih dari 30 juta jiwa. Total sudah 100 juta penduduk Indonesia mendapatkan CKG,” ujar Qodari.
Ia menegaskan pemerintah akan terus melanjutkan dan memperluas program tersebut agar manfaat layanan kesehatan dapat dirasakan seluruh lapisan masyarakat tanpa terkendala biaya.
Menurutnya, keberhasilan CKG menjadi bukti nyata hadirnya negara dalam memastikan kesehatan berkualitas dapat diakses hingga tingkat akar rumput.
BACA JUGA:Timnas Indonesia Masuk Grup Neraka Piala Asia 2027, Lawan Jepang, Qatar dan Thailand
Dampak positif program tersebut juga mulai terlihat di sejumlah daerah. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Lalu Hamzi Fikri menjelaskan bahwa pelaksanaan CKG secara masif berhasil mempercepat penurunan angka stunting sekaligus memperkuat penanganan tuberkulosis atau TBC.
“Hasil evaluasi tingkat pusat pada Triwulan I-2026, angka prevalensi stunting di NTB tercatat turun signifikan menjadi 12,88 persen. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan target yang ditetapkan sebesar 17,5 persen,” tegasnya.
Menurut Hamzi, capaian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan preventif dan pemeriksaan kesehatan rutin mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Selain itu, deteksi dini dinilai membantu pemerintah daerah mengambil langkah intervensi lebih cepat terhadap kelompok rentan.
BACA JUGA:ParagonCorp Buka Pendaftaran Inspiring Lecturer Program 2026, Dorong Dosen Jadi Penggerak Perubahan