Menurutnya, rumah tersebut harus dibangun kembali dari awal karena tingkat kerusakannya sudah sangat parah.
"Kalau program Rutilahu itu anggarannya sekitar Rp20 juta untuk peningkatan kualitas rumah layak huni."
"Sementara rumah Bu Kasiyati harus dibangun dari awal, mulai dari pondasi," jelasnya.
Sebelumnya, kondisi rumah Kasiyati menjadi perhatian masyarakat setelah diketahui keluarga tersebut telah bertahan hidup selama sekitar 15 tahun di rumah berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah.
Saat musim hujan tiba, air kerap masuk dari berbagai sisi bangunan hingga membuat lantai rumah berubah menjadi becek.
Dari bagian luar, kondisi rumah terlihat rapuh dengan sejumlah bagian yang miring dan hanya ditopang batang bambu seadanya.
Di rumah sederhana itu, Kasiyati tinggal bersama suaminya, Suhadi (40), serta putra sulung mereka yang saat ini duduk di bangku kelas VII SMP Negeri 3 Sumber.
Kasiyati mengaku selama bertahun-tahun telah berusaha mengikuti berbagai pendataan dan prosedur pengajuan bantuan pemerintah.
Namun hingga kini, bantuan rumah yang diharapkan belum juga terealisasi.
"Setiap kali ada informasi pendataan bantuan, saya selalu berusaha mengikuti prosedur yang diminta. Namun hasilnya tetap sama. Tidak pernah realisasi," ungkapnya.
Kondisi ekonomi keluarga yang bergantung pada penghasilan suami sebagai pekerja serabutan membuat harapan terhadap bantuan pembangunan rumah semakin besar.
Dengan adanya perhatian dari pemerintah daerah, Kasiyati berharap keluarganya dapat segera menempati rumah yang aman, sehat, dan layak huni. (sam)