Oleh: Fathan Mubarak*
RADARCIREBON.COM - SAYA mendukung pergantian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Pasundan.
Sebuah wilayah pada mulanya adalah sebuah kebudayaan. Kekuasaan yang mengubahnya menjadi administrasi dengan menarik garis, menyusun kategori, menetapkan batas, dan membuat sebuah ruang menjadi mudah dibaca dari atas.
Pasundan mengingatkan kita pada sesuatu yang selalu luput dari penyederhanaan tersebut: kompleksitas sebuah kebudayaan. Kita bisa memulainya dari buku Seeing Like a State yang ditulis James C. Scott.
Judul lengkapnya Seeing Like a State: How Certain Schemes to Improve the Human Condition Have Failed.
BACA JUGA:Ganti Nama Jawa Barat Jadi Provinsi Sunda, Benarkah Solusi Perkuat Identitas Budaya?
Buku setebal 445 halaman ini menjadi semacam puncak perjalanan intelektual Scott sebagai ilmuwan politik dan seorang antropolog.
Penelitian panjang Scott tentang petani di Asia Tenggara, juga tentu saja suasana intelektual pasca runtuhnya Uni Soviet, membawanya pada satu pertanyaan: mengapa kekuasaan yang ingin memperbaiki kehidupan masyarakat justru sering menghasilkan kehancuran?
Abad ke-20 menyaksikan berbagai proyek besar pembangunan yang dirancang negara berakhir gubrah.
Kolektivisasi pertanian Uni Soviet, program ujamaa villages di Tanzania, proyek modernisasi pertanian di negara-negara berkembang, perencanaan kota modern seperti Brasília, termasuk proyek rekayasa sosial besar di Cina pada masa Great Leap Forward.
Negara senantiasa meyakini bahwa masyarakat dapat diperbaiki melalui desain besar dari pusat kekuasaan.
Negara modern memang terobsesi dengan keterbacaan. Agar mudah diatur, masyarakat harus dipetakan. Bahasa harus dibakukan. Wilayah harus diberi batas. Tradisi harus diklasifikasi. Segala sesuatu yang terlalu rumit akan disederhanakan.
Negara modern selalu percaya bahwa dunia akan menjadi lebih baik apabila lebih mudah dibaca.
Namun kebudayaan tidak pernah serupa dengan statistika. Kebudayaan tumbuh seperti hutan: tidak lurus, tidak simetris, tidak selalu dapat diprediksi.