CIREBON, RADARCIREBON.COM– Kondisi Masjid Al-Hidayah yang berlokasi di belakang Terminal Harjamukti, Kota Cirebon, kondisinya memprihatinkan. Masjid yang disebut merupakan aset Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon tersebut terlihat kurang terawat dan membutuhkan perhatian.
Kondisi itu mendapat sorotan dari warga Kota Cirebon, Hera Damayanti. Saat mengunjungi masjid tersebut, Hera mengaku prihatin melihat kondisi rumah ibadah yang berada tidak jauh dari kawasan terminal.
Kata dia, berdasarkan informasi yang diketahuinya, lahan Masjid Al-Hidayah berkaitan dengan aset pemerintah. Ia menyebut sebelumnya terdapat lahan milik Dinas Perhubungan Provinsi yang kemudian berkaitan dengan proses tukar-menukar aset untuk pembangunan terminal.
“Sepengetahuan saya masjid ini punya pemerintah kota. Mohon dikoreksi saya. Dulu lahannya dari Dinas Perhubungan provinsi, kalau tidak salah sudah tukar guling,” katanya.
BACA JUGA:Letakkan di Depan Rumah, Ini 5 Tanaman Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui
Menurut Hera, persoalan yang lebih memprihatinkan adalah kondisi lingkungan sekitar masjid. Ia mengaku menemukan bekas alat kontrasepsi di lahan kosong depan pagar masjid. Lingkungan depan masi lahan kosong, dimanfaatkan oleh oknum untuk melakukan tindakan tidak senonoh.
“Tadi saya datang masuk ke sini ada perbuatan kurang pantas. Kemudian coba teman-teman lihat di seputar masjid. Sekitar 10 meter diluar masjid, bekas alat kontrasepsi itu banyak,” ungkapnya.
Hera mengaku sangat prihatin kondisi tersebut. Ia berharap Pemkot Cirebon dapat memberikan perhatian lebih terhadap keberadaan Masjid Al-Hidayah, dan membuka peluang bagi pihak swasta dan masyarakat yang ingin membantu melakukan renovasi dan revitalisasi masjid.
Menurutnya, keterbatasan anggaran pemerintah daerah seharusnya tidak menjadi penghalang, jika ada masyarakat yang bersedia mengeluarkan dana untuk memperbaiki rumah ibadah tersebut.
BACA JUGA:Bisa Terang Tanpa KPBU? Karso Bongkar Alasan Menolak Proyek APJ Kota Cirebon
“Kami sebagai masyarakat mengerti ketersediaan anggaran Pemda sudah tidak ada. Tapi apabila ada masyarakat Kota Cirebon yang ingin merevitalisasi, merenovasi, dan tetap fungsinya sebagai rumah ibadah yakni masjid, tolong diberikan kemudahan aksesnya,” tuturnya.
Sementara itu, Riza (36), marbot Masjid Al-Hidayah yang selama 13 tahun mengabdi, mengatakan selama ini kebersihan masjid sebisa mungkin ia tangani sendiri. Namun, karena keterbatasan waktu, pihaknya tidak bisa maksimal.
“Saya sudah semaksimal mungkin bersihkan setiap pagi. Saya tidak digaji disini, jadi kalau siang kotor, karena siang harinya saya kerja ngojek. Nyapu dan ngepel hanya pagi hari,” ujar Riza.
Menurut Riza, berbagai kebutuhan masjid selama ini lebih banyak mengandalkan uang kotak amal. Ia mengatakan perhatian terhadap masjid tidak banyak berasal dari pemerintah. “Semua diperhatikan terus, bukan oleh pemerintah. Ini tergantung uang kotak,” katanya.
BACA JUGA:2 Ton Tepung Jagung dari Majalengka Meluncur ke Cirebon, Ada Kontrak 10 Ton per Pekan
Riza pun menyambut baik apabila ada pihak yang ingin melakukan renovasi terhadap Masjid Al-Hidayah. Katanya, Masjid Al-Hidayah masih cukup ramai digunakan untuk salat Jumat. Namun, aktivitas salat fardu tidak seramai sebelumnya karena akses menuju kawasan terminal sudah ditutup.
“Di sini Jumatan ramai. Kalau salat fardu kurang ramai, karena terminal ditutup, akses jalannya kan tidak ada. Kalau akses terminal tidak ditutup, ramai saja. Di terminal juga sudah ada musala,” pungkasnya. (cep)