Foto profil, status online, aktivitas, dan informasi pribadi dapat memberikan gambaran mengenai identitas serta kebiasaan seseorang.
Pelaku kemudian bisa menggunakan informasi tersebut untuk membuat skenario penipuan yang lebih meyakinkan.
Misalnya, foto profil seseorang dapat digunakan untuk membuat akun WhatsApp palsu.
Setelah itu, pelaku menghubungi keluarga atau teman korban dengan alasan sedang membutuhkan uang.
Untuk mengurangi risiko tersebut, periksa pengaturan privasi WhatsApp secara berkala.
Beberapa pengaturan yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Batasi siapa yang dapat melihat foto profil.
- Batasi informasi terakhir dilihat dan status online.
- Atur siapa yang dapat memasukkan Anda ke grup.
- Batasi visibilitas informasi pribadi.
- Jangan sembarangan membagikan kode verifikasi.
- Periksa secara rutin perangkat yang terhubung dengan akun.
Pengguna juga perlu berhati-hati terhadap tautan yang diterima melalui WhatsApp.
Jangan menganggap pesan dari nomor yang dikenal otomatis aman karena akun tersebut juga bisa saja telah diretas.
Jangan langsung percaya pesan yang terlihat mendesak
Pesan seperti “segera klik”, “akun akan diblokir”, “paket tertahan”, atau “hadiah harus diklaim hari ini” patut dicurigai.
Teknik semacam itu memanfaatkan kepanikan agar korban bertindak tanpa berpikir panjang.
Biasakan berhenti sejenak sebelum membuka tautan atau mengikuti instruksi yang diberikan.
4. Jangan Sembarangan Klik Tautan dan Instal APK
Salah satu ancaman yang perlu diwaspadai pengguna smartphone adalah penyebaran aplikasi berbahaya melalui pesan pribadi.
Modusnya beragam. Pelaku dapat mengirim file yang diklaim sebagai undangan pernikahan, surat tilang, foto, resi pengiriman, dokumen pekerjaan, atau pemberitahuan tertentu.
Korban kemudian diarahkan untuk menginstal file APK tersebut.