Bukan Cuma Uang, Data Pribadi Ikut Diincar
Yang membuat modus ini perlu diwaspadai adalah proses penipuan tidak berhenti ketika calon korban melakukan pembayaran.
BACA JUGA:Korban Penusukan di Sutawinangun Meninggal, Polisi Siapkan Pasal Penganiayaan Berat
Kaspersky menemukan bahwa situs palsu tersebut meminta sejumlah informasi pribadi, mulai dari nama lengkap, nomor telepon, alamat email, kota tempat tinggal hingga kontak WhatsApp.
Setelah itu, pengguna juga diarahkan memberikan informasi kartu bank.
Data tersebut dapat dimanfaatkan pelaku untuk melakukan rekayasa sosial atau social engineering. Informasi pembayaran juga berisiko dicuri dan digunakan untuk menyebabkan kerugian finansial.
Kaspersky menilai modus seperti ini kerap muncul ketika perangkat populer baru diluncurkan.
BACA JUGA:Tak Ada Lagi Rebutan Material Bongkaran Sekolah, Disdik Kabupaten Cirebon Siapkan Aplikasi SiCebong
Antusiasme konsumen dapat membuat calon pembeli lebih mudah tergiur dengan harga murah dan mengabaikan tanda-tanda mencurigakan.
Kaspersky Ingatkan Jangan Mudah Tergiur
Kaspersky menyarankan konsumen melakukan pembelian melalui toko resmi atau pengecer yang terpercaya.
Alamat situs juga perlu diperiksa sebelum pengguna memasukkan informasi pribadi, termasuk memastikan format URL dan ejaan nama organisasi.
Harga yang terlalu murah serta pilihan warna atau model yang berbeda dari informasi resmi produsen juga patut menjadi tanda peringatan.
BACA JUGA:FEKDI X IFSE 2026: Sinergi BI, OJK, dan Pemerintah Perkuat Ekonomi Digital
Untuk transaksi online, konsumen dapat menggunakan kartu virtual atau layanan pembayaran khusus agar informasi kartu utama tidak langsung terekspos.
Kaspersky juga menyarankan mengaktifkan autentikasi dua faktor dan memantau aktivitas pada akun maupun aplikasi keuangan secara berkala.