Program EGG Jabar Diluncurkan, 4.665 Peternak Ayam Petelur Didorong Naik Kelas

Minggu 27-09-2026,06:01 WIB
Reporter : Moh Junaedi
Editor : Moh Junaedi

BANDUNG, RADARCIREBON.COM – Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat langkah untuk mendorong peternak ayam petelur naik kelas secara ekonomi.

Upaya tersebut dilakukan melalui pencanangan program EGG (Endog Jabar Go Global).

Program ini dirancang untuk memperluas akses pembiayaan, meningkatkan literasi keuangan, sekaligus memperbaiki tata kelola usaha para peternak ayam petelur di Jabar.

BACA JUGA:FEKDI X IFSE 2026: Sinergi BI, OJK, dan Pemerintah Perkuat Ekonomi Digital

Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan, sektor ayam petelur memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pengungkit perekonomian masyarakat.

Menurutnya, pengembangan peternakan ayam petelur tidak hanya relevan untuk usaha berskala industri.

Potensi yang sama juga dapat dikembangkan oleh masyarakat melalui peternakan skala rumah tangga.

Selain berkontribusi terhadap ketahanan pangan, usaha ayam petelur dinilai dapat menjadi sumber tambahan pendapatan bagi masyarakat.

“Ayam, baik pedaging maupun petelur, sangat potensial. Tidak semuanya harus dikonsumsi, sebagian bisa dijual untuk meningkatkan pendapatan,” kata Herman dalam Penandatanganan Nota Kesepahaman Kerja Sama Implementasi Pengembangan Komoditas Unggulan Ayam Petelur melalui Layanan Inklusi Keuangan di Provinsi Jabar di Bappeda Jabar, Kota Bandung, Jumat 25 September 2026 kemarin.

Herman mengatakan, penguatan sektor peternakan membutuhkan kolaborasi lintas pihak.

Pemerintah daerah, OJK, perbankan, pelaku usaha, hingga peternak perlu membangun ekosistem yang mendukung perkembangan usaha.

Salah satu perhatian utama adalah akses pembiayaan. Menurut Herman, potensi kredit untuk sektor peternakan di Jawa Barat mencapai Rp565 miliar.

BACA JUGA:OJK Cirebon Soroti Literasi Keuangan di Bawah 70 Persen, Warga Diingatkan Waspada Pinjol Ilegal

Namun, dari potensi tersebut, kredit yang sudah terealisasi baru sekitar Rp81 miliar, sedangkan outstanding kredit tercatat sekitar Rp49 miliar.

Kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang yang cukup besar untuk memperluas pembiayaan kepada pelaku usaha peternakan.

Kategori :