SUMBER- Musim kemarau berkepanjangan membuat swasembada pangan secara nasional dalam waktu 3-4 tahun mendatang terancam gagal. Swasembada padi, jagung dan kedelai yang diluncurkan April 2015 lalu juga terancam gagal di Kabupaten Cirebon. Petani asal Wanasaba Kidul, Kecamatan Talun, Sukadrdi mengatakan tanda-tanda kegagalan swasembada pangan di Kabupaten Cirebon dari awal sudah terlihat. Selain karena puso dan el nino, Sukardi menilai pemerintah kurang tanggap dalam mengantisipasi kekeringan dan juga pemberian bantuan pupuk. \"Bagaimana mungkin target produksi bisa dicapai bila tanaman padi, jagung atau kedelai mengalami puso akibat kemarau?\" tegasnya, kemarin (8/9). Masih kata Sukardi, pemerintah seharusnya tanggap dan matang dalam mengatasi berbagai persoalan yang akan mengancam gagalnya panen. \"Lihat saja dari berapa hektar sawah yang ditanami padi dan palawija, setengah mengalami gagal panen. Ini mungkin karena ketetapan yang maha kuasa karena adanya kekeringan tapi kalau pemerintah sudah tanggap mungkin gagal panen tidak separah tahun ini,\" ungkapnya. Bahkan, saat ini para petani juga gagal dalam meramalkan cuaca. Untuk itu, pemerintah juga perlu menerapkan pembelajaran bagi petani dalam meramalkan cuaca demi meningkatkan swasembada pangan. Pembelajaran tersebut bisa bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). \"Sekarang meramalkan cuaca sudah susah, tidak seperti dahulu bulan ini harusnya musim rendeng (hujan), eh nyatanya musim ketigo (kemarau). Makanya, bukan hanya pembelajaran cara menanam dan panen saja, peramalan cuaca juga penting,\" harapnya. Sementara itu, Sekretaris Dinas pertanian, perkebunan, peternakan dan kehutanan (Distanbunakhut) Kabupaten Cirebon, H Muhidin MM mengaku musim kemarau tahun 2015 merupakan terparah selama tiga tahun terakhir. Muhidin juga menyebutkan, target untuk pencapaian surplus swasemba padi, jagung dan kedelai untuk Kabupaten Cirebon ialah 46ribu hektare. Namun hanya mampu ditanami sekitar 32ribu hektare. Karena sebagian mengalami puso, target 32 ribu hektare itu hanya bisa terealisasi 1.810 hektare. \"Program pak menteri itu bagus, tapi rencana Allah itu lain. Kalau untuk padi surplus hingga Januari 2015 mencukupi, artinya tidak ada masalah. Tapi untuk jagung dan kedelai masih belum memungkinkan,\"ungkapnya. (via)
Swasemba Pangan Terancam Gagal
Rabu 09-09-2015,09:00 WIB
Reporter : Harry Hidayat
Editor : Harry Hidayat
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Minggu 22-03-2026,08:48 WIB
2 Pemuda Curi HP di Kedawung Lalu Motor di Mundu, Berakhir Babak Belur
Sabtu 21-03-2026,21:00 WIB
Resmi! Ini Skuad Timnas Indonesia Pilihan John Herdman untuk FIFA Series 2026
Sabtu 21-03-2026,20:01 WIB
Kapolres Cirebon Kota Pastikan Arus Mudik Aman, Mulai Fokus Pengamanan Arus Balik
Sabtu 21-03-2026,22:01 WIB
Arus Mudik Lokal Diprediksi Membludak H+1 Lebaran, Polisi Siapkan Strategi
Minggu 22-03-2026,10:56 WIB
Wisata Cirebon Terbaru! Museum AI Lotus Sajikan Sejarah Pangeran Matangaji dengan Visual Modern
Terkini
Minggu 22-03-2026,19:34 WIB
Tunjangan Guru Skema Baru 2026 Cair Bulanan, Lebih Pasti dan Bikin Tenang
Minggu 22-03-2026,19:23 WIB
Prabowo Soal Perjanjian Tarif AS: Investasi Asing Boleh Masuk, Hilirisasi Wajib
Minggu 22-03-2026,19:14 WIB
Jalur Mandirancan Macet Usai Lebaran, Wisata ke Kuningan Picu Kepadatan
Minggu 22-03-2026,18:00 WIB
Kemnaker Hapus Batas Tahun Kelulusan, Pelatihan Vokasi 2026 Kini Terbuka untuk Semua Lulusan
Minggu 22-03-2026,17:06 WIB