Rumah Baca Jawa Pintar; Belajar Kromo Inggil, Dakon, hingga Patil Lele

Minggu 17-07-2016,11:30 WIB
Reporter : Dian Arief Setiawan
Editor : Dian Arief Setiawan

Rumah Baca Jawa Pintar dipicu keprihatinan Dahlan Efendi atas hilangnya tradisi kesopanan di kalangan anak-anak di desanya. Sebagai apresiasi, wali murid kerap memberinya gabah dan ayam.   Laporan: AGUS DWI PRASETYO, Madiun   Gundul gundul pacul cul gelelengan Nyunggi-nyunggi wakul kul gembelengan Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan Wakul ngglimpang segane dadi sak ratan   LAGU Jawa itu menggema di ruang tamu sebuah rumah. Belasan anak menyanyikannya sembari duduk lesehan beralas tikar. Pakaian mereka selaras dengan tembangnya: batik lurik cokelat dipadu garis hitam horizontal. Tak lupa dilengkapi belangkon di kepala. Khas Jawa. Seperti sang guru yang membimbing mereka menyanyikan lagu. ”Ayo sak iki cobo nyanyi siji-siji (ayo sekarang coba nyanyi satu-satu, red),” kata Dahlan Efendi, sang guru, kepada para murid yang berusia 5–10 tahun itu. Segera saja terlihat siapa yang menguasai benar lagu berjudul Gundul Gundul Pacul itu. Yang tidak tampak malu-malu dan gugup. Ada pula yang hanya diam karena tak hafal lirik. ”Kami menyebutnya ’Jumat keramat’. Semua murid harus berbahasa kromo dan wajib mengenakan pakaian Jawa,” ujar Dahlan kepada Jawa Pos (Radar Cirebon Group) yang turut menungguinya mengajar pada Jumat pekan lalu (8/7). Sudah sembilan bulan ini Dahlan mengajarkan pengetahuan budaya Jawa kepada anak-anak di kampungnya, Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Lagu dan bahasa tentu termasuk yang diajarkan pria yang sehari-hari bekerja secara freelance sebagai juru kamera dan menulis novel serta cerpen tersebut. Bertempat di ruang tamu rumah mertuanya yang berukuran 7 x 3 meter, Rumah Baca Jawa Pintar yang didirikan Dahlan itu kini memiliki 20 murid. Mulai usia pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah dasar (SD). Selain lagu dan bahasa, ada permainan tradisional yang dikenalkan Dahlan kepada para murid. Di antaranya, dakon (lumbungan), cublak-cublak suweng, jamuran, hingga cutek (patil lele). Pelajaran budaya Jawa itu sebenarnya datang belakangan. Niat awal Dahlan sebenarnya hanya ingin berbuat sesuatu agar anak-anak di desanya tahu unggah-ungguh alias sopan santun. Sebab, dia prihatin terhadap anak-anak di desanya yang kerap berperilaku tidak sopan kepada orang yang lebih tua. ”Kalau bicara kepada orang tua sering nglamak (kurang ajar, Red), menggunakan bahasa Jawa kasar,” kata pria 29 tahun kelahiran Ngawi, Jawa Timur, itu. Semula hanya ada satu murid yang diajarnya. Yaitu, M Wakhid Nur Rohman. Wali bocah 9 tahun tersebut, yakni neneknya, Lasmi, hanya ingin menitipkan Wakhid agar mau belajar di rumah Dahlan. Di kalangan teman sebayanya, Wakhid memang dikenal sulit diatur dan bertingkah semau sendiri. ”Petakilan kalau orang Jawa ngomong,” tutur Dahlan mendeskripsikan bocah tersebut. Hanya beberapa minggu belajar bersama Dahlan, perilaku Wakhid berubah. Dia jadi tahu unggah-ungguh. Bocah yang ditinggal ibunya bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) itu pun aktif dalam berbagai kegiatan yang digelar di sekolahnya. ”Sebelumnya nggak mau ikut,” terangnya. Perubahan Wakhid itulah yang kemudian menarik perhatian orang tua dan wali murid lain yang tinggal di sekitar rumah Dahlan. Pada September 2015, ada 13 anak yang dititipkan ke Dahlan. Mayoritas orang tua anak-anak itu bekerja sebagai TKI dan petani. ”Nah, dari situ, saya akhirnya mendirikan rumah baca Jawa untuk anak-anak,” paparnya. Lazimnya rumah baca, Dahlan semula hanya ingin memfasilitasi minat membaca anak-anak di kampungnya. Untuk menambah wawasan mereka. Namun, para wali murid justru meminta Dahlan memberikan bimbingan belajar (bimbel) pelajaran umum. Tak kuasa menolak, bimbel itu pun dimulai sore selepas salat Asar hingga malam setelah Isya. Jadilah, setengah dari ruang tamu rumah mertuanya itu disulap menjadi ruang kelas dadakan. Inisiatif mengenalkan budaya Jawa muncul ketika rumah baca tersebut berusia dua bulan. Gara-garanya, Dahlan prihatin karena sebagian besar muridnya tidak bisa berbahasa Jawa kromo inggil alias halus. Pengetahuan mereka juga minim tentang lagu dan permainan tradisional Jawa. ”Yang populer di kalangan anak-anak justru PlayStation (PS), gadget, dan lagu-lagu dangdut dewasa,” ungkapnya. Dahlan tidak sendiri menggembleng anak-anak tersebut. Bersama istrinya, Lia Puspitasari, 26, yang berprofesi dosen di salah satu lembaga kursus di Kota Madiun, Dahlan menyisipkan pengetahuan seputar budaya Jawa. Interaksinya pun dengan bahasa Jawa. ”Gantian sama istri (mengajarnya, Red). Kalau hari lain, seperti bimbel biasa, tidak harus mengenakan pakaian Jawa,” ungkapnya. Tidak ada metode khusus yang digunakan Dahlan dalam pembelajaran budaya Jawa. Maklum, dia dan istrinya memang bukan lulusan sekolah tinggi budaya atau pendidikan bahasa Jawa. Dahlan lulusan S-1 pendidikan agama Islam (PAI) di STAI Ngawi, sedangkan istrinya lulusan S-2 pendidikan bahasa Inggris di Universitas Islam Malang. Pengetahuan tentang lagu dan permainan Jawa yang mulai jarang diminati anak-anak itu diperoleh Dahlan dari pengalamannya selama empat tahun belajar ilmu kejawen dan tata krama di Jogjakarta. Lalu, bahasa diperoleh dari beberapa saudaranya yang menjadi seniman dalang di Ngawi. Dahlan pun harus mengeluarkan kocek pribadi untuk membeli batik lurik dan belangkon. Itu cara dia untuk memotivasi para murid mengikuti kelas budaya Jawa. Satu setel pakaian khas Jawa dan belangkon itu dibelinya seharga Rp 35 ribu. Seragam tersebut lantas diberikan kepada murid secara gratis. ”Gaji istri selama sebulan saya belikan baju dan belangkon,” kenang bapak dua anak itu. Meski sudah menyemangati dengan seragam, Dahlan awalnya tetap tak mudah mengajak para murid belajar budaya Jawa. Tapi, dengan pendekatan persuasif, lambat laun mereka tertarik. Selama proses belajar, seluruh peserta didik diwajibkan berbahasa Jawa krama halus kepada guru dan sesama murid lain. Tidak tertinggal, mereka juga harus mengenakan pakaian adat Jawa yang telah diberikan. Untuk pembiayaan, Dahlan hanya mengandalkan kocek pribadi. Sejak rumah baca didirikan, para murid tidak pernah dipungut biaya sepeser pun alias gratis. Semua peranti belajar seperti meja, rak buku, dan papan tulis didanai secara mandiri. Meski demikian, tak jarang orang tua dan wali murid yang memberikan sumbangan sukarela sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih mereka. Sumbangan paling besar Rp30 ribu setiap bulan. Ada pula orang tua yang memberikan satu sak gabah dan beberapa ayam sebagai ucapan terima kasih. Dahlan berharap rumah baca yang didirikannya kelak berkembang menjadi kampung Jawa pintar. Muridnya tidak hanya anak-anak, tapi juga para pemuda dan masyarakat lain yang tinggal di desanya. Sebab, yang ingin dia bangun lewat Rumah Baca Jawa Pintar adalah penguatan karakter. Dia meyakini bahwa tata krama dan budi pekerti luhur dengan sendirinya terbangun ketika anak belajar budaya warisan leluhur. ”Seperti cara berbicara, kalau menggunakan bahasa kromo halus akan lebih sopan ketimbang bahasa ngoko (Jawa kasar, red),” jelas pengagum Dahlan Iskan tersebut. Karena itu, seperti terlihat pada Jumat sore pekan lalu, dengan telaten dia mengajarkan sepuluh kosakata bahasa Jawa kromo inggil. Satu per satu murid diminta melafalkan semua kata secara benar. Lalu, menuliskan arti setiap kata di buku masing-masing. (*/c10/ttg)

Tags :
Kategori :

Terkait