JAKARTA – Ajang pemilu 2019 menjadi tantangan serius bagi pihak penyelenggara. Bukan hanya penyelesaian UU yang terlambat dan waktunya yang berbarengan dengan pilkada jumbo tahun depan. Dukungan anggaran juga tidak maksimal. Untuk kebutuhan tahapan pileg dan pilpres yang dianggarkan melalui Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2018, potongannya hampir 40 persen. Dari Rp15,8 triliun yang diajukan, Kementerian Keuangan hanya menyanggupi Rp10,8 triliun. Anggota Komisi II DPR RI Ahcmad Baidowi menyatakan, seretnya alokasi anggaran memang sulit dihindari. Hal itu tidak lepas dari kondisi postur APBN yang memang menitikberatkan pada pembangunan fisik. Meski demikian, lanjut dia, bukan berarti pemilu boleh tidak berkualitas. “Tentu itu memberatkan, tapi pemilu tidak boleh gagal,” ujarnya kepada Jawa Pos (Radar Cirebon Group), kemarin (6/8). Sebaliknya, politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu menyatakan realitas tersebut harus menjadi tantangan bagi penyelenggara. Bagaimana menciptakan pemilu murah tetapi tidak menanggalkan substansinya. Caranya, KPU harus bisa memilah mana pos-pos kegiatan yang tidak prioritas dan mana pos yang bisa diminimalkan. Awiek mengatakan, ada sejumlah pos kegiatan yang bisa dikurangi. Misalnya terkait sosialisasi, penyelenggara tidak harus melakukannya sendiri. Namun, mereka juga bisa menggandeng pihak-pihak yang punya minat terhadap penguatan demokrasi. “Asalkan tidak mengikat, tidak apa-apa,” kata pria asal dapil Madura tersebut. Selain itu, lanjut dia, intensitas pos-pos yang sifatnya supervisi dan koordinasi bisa dikurangi. Dana tahapan pemilu Rp10,8 triliun untuk 2018 merupakan hasil pertemuan antara KPU, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan Badan Perencanaan Nasional (Bappenas). Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi menyatakan, saat ini sejumlah penyesuaian sedang dilakukan dalam menyikapi pemangkasan tersebut. Soal kotak suara contohnya. Pihaknya memutuskan untuk melakukan pengadaan kotak suara transparan secara bertahap. “Makanya tadi seperti kotak suara kan ada efisiensi. Pemutakhiran data ada efisiensi. Seperti itulah nanti kita lakukan,” ungkapnya. Ketua KPU Arief Budiman menambahkan, semestinya dalam memangkas anggaran, pemerintah bisa menunjukkan pos-pos yang harus dikurangi dengan menyampaikan argumentasi. Jika hanya memotong tanpa pertimbangkan akibatnya, penyelenggara akan rugi. “Sosialisasi misalnya, kalau sedikit ya boleh. Tapi kalau banyak, nanti orang tidak cukup info tentang pemilu dan KPU disalahkan lagi. Makanya KPU harus diajak bicara. Jangan pokoknya dipangkas jadi 10 T,” terangnya. Anggaran penyelenggaraan pemilu terbagi dalam tiga tahap. Yakni, APBN 2017, APBN 2018, dan APBN 2019. Besaran anggaran pada 2017 sudah disepakati Rp 800 miliar, sementara anggaran untuk APBN 2019 masih dikaji. (far/c6/fat)
Anggaran Dipangkas Rp5 Triliun, KPU Wajib Bikin Pemilu Murah
Senin 07-08-2017,16:35 WIB
Reporter : Dian Arief Setiawan
Editor : Dian Arief Setiawan
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 20-03-2026,12:30 WIB
Cara Mengajukan KUR Mandiri 2026 Plafon Rp10–15 Juta, Simak Syarat dan Tabel Angsurannya
Jumat 20-03-2026,13:30 WIB
Cicilan Motor Listrik Polytron Fox 350 Makin Terjangkau, Ini Skema Lengkap dan Simulasinya
Jumat 20-03-2026,22:00 WIB
Jalur Pantura Susukan Sepi di H-1 Lebaran, Pedagang Pilih Kukud Lebih Awal
Jumat 20-03-2026,11:34 WIB
Arus Mudik H-1 Lebaran 2026: One Way Masih Berlaku di Tol Cipali, Lalu Lintas Lancar
Jumat 20-03-2026,12:51 WIB
Kredit Motor Listrik Honda CUV e Mulai Rp700 Ribuan, Ini Skema Lengkapnya
Terkini
Sabtu 21-03-2026,11:04 WIB
iPhone 18 Pro Max Siap Meluncur 2026, Bawa Chip A20 2nm dan Warna Baru yang Lebih Premium
Sabtu 21-03-2026,10:46 WIB
2 Terduga Maling Motor Babak Belur Dihajar Warga di Cirebon Saat Lebaran
Sabtu 21-03-2026,10:33 WIB
Kegiatan Ramadan dan Laporan Zakat Fitrah Masjid Nurul Ikhlas Pejambon Berjalan Lancar
Sabtu 21-03-2026,10:00 WIB
Wamenaker: Pelatihan Vokasi Tak Boleh Sekadar Formalitas, Harus Perluas Peluang Kerja ?
Sabtu 21-03-2026,09:37 WIB