INDRAMAYU–Harga Eceran Tertinggi (HET) beras yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan RI resmi berlaku mulai 1 September 2017. Untuk wilayah Jawa, maksimal harga beras medium dipatok Rp9450 kg, sedangkan beras premium Rp12.800/kg sampai ketangan konsumen. Pengusaha beras serta penggilingan padi di wilayah pantura Kabupaten Indramayu menyambut positif aturan yang digelontorkan untuk mengendalikan harga beras di level konsumen itu. Namun , dari sisi bisnis aturan itu bakal sulit diterapkan ketika bahan baku beras yakni gabah mengalami lonjakan harga di musim paceklik sekarang ini. “Bukannya dapat untung, kita malah rugi besar jika harga gabahnya sudah tinggi sementara harga berasnya sudah dipatok segitu,” ungkap Adnan salah seorang pedagang di kawasan sentra industri beras Karangsinom, Kecamatan Kandanghaur, Minggu (3/9). Saat ini, ungkap dia, harga gabah kering giling di tingkat petani sudah menembus Rp6.200 per kilogram. Tingginya harga gabah, lantaran stok di tingkat petani sudah menipis seiring tuntasnya musim panen di wilayah Kabupaten Indramayu. “Tidak masalah kalau pasokan gabah lagi banyak, kan pasti harganya murah. Tapi untuk sekarang harganya lagi tinggi. Kita terkendala bahan baku,” jelas dia. Senada dilontarkan Rusnadi pengusaha penggilingan padi di Kecamatan Anjatan. Untuk memenuhi bahan baku gabah, dia membelinya dari daerah lain seperti Pemalang dan Karawang yang harganya masih dikisaran Rp4.600-4.700 per kilogram untuk GKP dan Rp5600-5700 per kilogram untuk GKG. Tapi masalahnya, kualitas gabah dari luar daerah itu kurang bagus sehinggga hanya bisa dijadikan beras kualitas medium. “Kualitas gabah yang paling bagus itu dari Indramayu, makanya wajar harganya tinggi. Nah, sekarang susah dapatnya, stok langka gara-gara banyak yang gagal panen akibat hama wereng sama klowor,” terang dia. Ditambahkan bapak 3 orang anak ini, selain pasokan mulai langka masalah lain yang tidak kalah krusial yaitu kriteria untuk menentukan beras medium atau premium. Sebab sebelumnya, transaksi jual beli beras di Pasar Induk Cipinang hanya berdasarkan kualitasnya. “Dulu kan pakai taksiran. Oh ini bagus, harganya segini. Kualitasnya sedang ya beda lagi. Sekarang belum ada standar atau kriteria beras itu disebut medium atau premium,” tandasnya. (kho)
Duh..Pengusaha Beras Sulit Dapat Gabah
Senin 04-09-2017,09:30 WIB
Reporter : Dedi Haryadi
Editor : Dedi Haryadi
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Minggu 02-08-2026,03:55 WIB
Update Klasemen Piala Presiden 2026: El Clasico Indonesia dan Derbi Jawa Timur Terjadi di Semifinal!
Minggu 02-08-2026,05:03 WIB
Puluhan Jemaah Umrah Asal Kuningan Terlantar di Bandara Soetta, Visa Baru Terbit Setelah Pesawat Berangkat
Minggu 02-08-2026,09:38 WIB
7 Rekomendasi Mobil Keluarga Terlaris 2026, Pilihan 7 Seaters dengan Kabin Luas dan Fitur Modern
Minggu 02-08-2026,10:38 WIB
RAM 16GB Cocok Untuk Kuliah & Kerja, Berikut 4 Rekomendasi Laptop Murah Mulai dari 5 Jutaan
Minggu 02-08-2026,09:06 WIB
Deretan Mobil Sedan Bekas 50 Jutaan yang Layak Beli, Irit dan Bandel Terbukti Masih Relevan Hingga Kini
Terkini
Senin 03-08-2026,00:58 WIB
Demokrat Dukung Program Indonesia ASRI Lewat Gerakan Langit Biru di 70 Kabupaten dan Kota
Senin 03-08-2026,00:12 WIB
Harga iPhone Agustus 2026 Bikin Kaget, iPhone 15 hingga iPhone 17 Pro Max Ikut Berubah
Minggu 02-08-2026,22:00 WIB
Jelang 17 Agustus, Ternyata Ini Produk yang Paling Diburu Warga di Living Plaza Cirebon
Minggu 02-08-2026,21:00 WIB
7 Oleh-oleh Umrah Favorit 2026, Sajadah Ukir hingga Cokelat Dubai Jadi Buruan
Minggu 02-08-2026,20:08 WIB