BANDUNG - Sudah dapat dipastikan sekarang ini, Provinsi Jawa Barat berada dalam kategori darurat kerusakan neraca air. Hal itu disampaikan pemerhati dan pegiat lingkungan dari DPKLTS (Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda), Taufan Suranto. Taufan memaparkan fakta yang menjelaskan kondisi itu di hulu dan di hilir berdasarkan data-data berikut. Kerusakan di hulu, berdasarkan data Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) 2017, sisa lahan resapan air hanya 15 persen saja dari 38.000 hektare yang tersedia. Persoalan ini berawal dari perubahan penanganan lingkungan yang semula hutan berubah menjadi lahan produksi. Perubahan dan alihfungsi lahan menurut Taufan terjadi karena faktor ekonomi. \"Jika lahan untuk pertanian bisa dikecilkan dan kemudian dimaksimalkan, lahan bisa dialihfungsikan kembali menjadi hutan,” ungkapnya. Karena itu, Taufan menilai, penguatan ekonomi para petani dan peladang di Jawa Barat sebenarnya dapat dioptimalkan. Penguatannya dalam bentuk peningkatan produktivitas lahan yang didukung teknologi. \"Tidak masalah sebuah kawasan menjadi sentra sayur. Tapi penggunaan lahannya kecil. Bisa juga dilakukan penggantian komoditas dari sayur-mayur dalam proses penanamannya yang tidak ramah lingkungan menjadi tanaman yang lebih kuat seperti kopi dan murbei, misalnya, atau bisa sekalian alih lokasi,” jelasnya. Sementara itu, contoh yang paling jelas dan nyata dari kerusakan lingkungan di hilir, menurut Taufan, sampah yang menumpuk di sungai yang diketahui berasal dari daerah-daerah di kawasan Bandung raya dan sekitarnya. Untuk mengatasi banjir, di kawasan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, sekarang sudah ada rencana pembangunan danau retensi sedalam sembilan meter luas dengan 9.000 meter2. Namun menurut Taufan, kondisi danau retensi tersebut belum jadi tapi sudah ada banjir. ”Ini karena kolam retensi ternyata tidak muat. Sehebat apapun teknologi, yang digunakan tidak bisa mengatasi persoalan alam. Harus pendekatan natural (ekohidraulik) seperti menanam pohon, membangun balong-balong natural, dan pembangunan eco drainase,” tegasnya. Taufan menjelaskan, siklus banjir di Jawa Barat awalnya berlangsung lima tahunan. Namun dalam beberapa waktu terakhir sudah meningkat menjadi satu tahun sekali. Taufan menilai, kondisi itu terjadi karena pemerintah provinsi Jawa Barat abai dan lalai dalam urusan lingkungan. ”Sepertinya sudah tidak ada solusi dalam hal infrastruktur. Normalisasi daerah aliran sungai (DAS) boleh saja saat genting, tapi habis itu mau diapakan lagi. Kuncinya hanya satu. seluruh sungai di Jawa Barat harus dikembalikan fungsinya. Direnaturalisasi dengan pendekatan ekohidrolik,” pungkasnya. (rie)
Jawa Barat Darurat Neraca Air, Pengamat: Pemprov Abai dan Lalai
Rabu 06-06-2018,23:14 WIB
Reporter : Dian Arief Setiawan
Editor : Dian Arief Setiawan
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 13-03-2026,03:00 WIB
Tim Resmob Polres Cirebon Kota Kejar Komplotan Curanmor, Pelaku Kabur ke Area Tambak
Jumat 13-03-2026,15:11 WIB
4 Pelaku Curanmor di Cirebon Ditangkap Polisi, 2 Lainnya Kabur Tinggalkan Senjata dan Motor Curian
Jumat 13-03-2026,10:02 WIB
Cara Dapat Saldo DANA Gratis Rp120 Ribu dari Aplikasi Penghasil Uang 2026, Cukup Main Game Ini
Jumat 13-03-2026,05:01 WIB
Muhammadiyah Resmi Umumkan Idulfitri 2026, Berikut Dasar Penentuannya
Jumat 13-03-2026,10:16 WIB
Jadwal Persib vs Borneo FC: Bojan Hodak Ungkap Kondisi Terkini Skuad Maung Bandung
Terkini
Jumat 13-03-2026,22:00 WIB
Mudik Gratis Jabar 2026 Resmi Diberangkatkan, 74 Bus Antar 3.000 Pemudik
Jumat 13-03-2026,21:07 WIB
Jelang Idulfitri, Polres Cirebon Kota Gelar GPM untuk Warga
Jumat 13-03-2026,20:31 WIB
Ramai Investasi Emas Cicilan, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
Jumat 13-03-2026,20:01 WIB
Polresta Cirebon Gelar GPM, 1.567 Warga Serbu Sembako Harga Terjangkau
Jumat 13-03-2026,19:32 WIB