ISTANBUL – Turki akan menolak usaha-usaha Amerika Serikat untuk memberlakukan sanksi-sanksi atas Ankara terkait peradilan seorang pendeta Kristen yang telah ditahan selama dua tahun. Presiden Tayyip Erdogan pada Senin (1/10) menuduh peNdeta tersebut memiliki kaitan gelap dengan teror. Perkara Pendeta Andrew Brunson yang akan diadili lagi pada 12 Oktober, telah membuat hubungan antara Ankara dan Washington mengalami krisis. Amerika Serikat telah mengambil kebijakan untuk memberlakukan sanksi-sanksi dan tarif yang mengakibatkan nilai tukar mata uang Turki lira berada di level terendah pada Agustus. Reuters melaporkan Brunson didakwa memiliki kaitan dengan para militan Kurdi dan pendukung Fethullah Gulen, ulama yang dipersalahkan Turki karena berada di balik usaha kudeta gagal tahun 2016. Pendeta itu membantah dakwaan-dakwaan atas dirinya dan Washington menuntut pembebasannya segera. Hubungan antara dua sekutu NATO sebelumnya sudah renggang akibat perselisihan terkait dukungan AS kepada para pejuang Kurdi di bagian utara Suriah, rencana-rencana Turki untuk membeli sebuah sistem pertahanan peluru kendali, dan pemenjaraan seorang eksekutif bank Turki atas pelanggaran sanksi-sanksi AS terhadap Iran. “Kami sangat sedih dengan pemerintahan AS saat ini. Satu mitra strategis, menyasar negara kami tanpa konsistensi logis, politis dan strategis,” kata Erdogan dalam pidato di depan sidang baru anggota parlemen. Erdogan menyatakan Turki bertekad melawan, dalam kerangka kerja legal dan diplomasi. “Pemahaman bengkok ini, yang memberlakukan sanksi-sanksi dengan menggunakan seorang pendeta sebagai alasan, yang diadili karena kaitan gelapnya dengan organisasi-organisasi teror,” sambungnya Perkara Brunson telah menjadi isu yang paling membuat kedua negara berseberangan. Presiden AS Donald Trump berpendapat dia dan Erdogan telah menyepakati sebuah persetujuan untuk membebaskannya pada Juli, tetapi Ankara membantah setuju membebaskan pendeta itu sebagai bagian perjanjian yang lebih luas. Brunson, yang telah dipenjara atau dikenai tahanan rumah sejak Oktober 2016, menghadapi hukuman penjara hingga 35 tahun jika terbukti. Bulan lalu jaksa utama dalam peradilannya diganti, sebuah langkah yang penasehat hukumnya sambut baik dengan hati-hati, dengan mengatakan itu mungkin isyarat dari perubahan kemauan politik. Dalam pidatonya di sidang pertama di depan para anggota parlemen sejak reses musim panas, Erdogan menyebut kemungkinan hubungan yang lebih baik. Ia menambahkan masih ada banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. “Kami mulai membuat kemajuan ke arah tercapainya pemahaman bersama (dengan Amerika Serikat, red), walau ini bukan level yang dikehendaki,” kata dia. Dia juga mengulangi tuduhan Turki bahwa Washington melindungi Gulen, yang tinggal di AS selama dua dekade. (FIN)
Turki Melawan Sanksi–sanksi AS
Rabu 03-10-2018,08:08 WIB
Reporter : Husain Ali
Editor : Husain Ali
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Sabtu 24-10-2026,21:00 WIB
Gagal Dapat Pinjaman Rp3,4 Triliun, Dedi Mulyadi Siapkan Opsi Tunda Bayar Proyek Jabar
Sabtu 24-10-2026,18:35 WIB
G-Shock GAC-2500 Lebih Ringan, GMC-2500 Lebih Mewah, Keduanya Punya Jarum Magnetik dan Ketahanan Air 20 Bar
Sabtu 24-10-2026,23:46 WIB
Rumah Sederhana Bisa Terlihat Lebih Cantik dengan 5 Tanaman Outdoor Minimalis Hias Ini
Minggu 25-10-2026,02:00 WIB
AFC Ubah Jadwal Piala Asia, Timnas Indonesia Harus Menunggu hingga 2032?
Sabtu 24-10-2026,19:00 WIB
Kebakaran Truk Ekspedisi di Tol Kanci-Pejagan, Dua Kru Berhasil Selamat
Terkini
Minggu 25-10-2026,18:00 WIB
Target Transaksi Rp5 Triliun! BSI International Expo 2026 Hadirkan Lebih dari 400 UMKM
Minggu 25-10-2026,17:30 WIB
Arti Rumah Tipe 21, 36, 45 dan 70: Apa Bedanya dan Mana yang Cocok untuk Anda?
Minggu 25-10-2026,17:07 WIB
Kode Pemain Naturalisasi Baru Terungkap, Bek Kelahiran Jakarta di Liga Belgia Bikin Penasaran, Siapa Dia?
Minggu 25-10-2026,16:10 WIB
Anak Memiliki Riwayat Keluarga Asma? Ini Cara Mencegah Serangan Sejak Dini
Minggu 25-10-2026,16:04 WIB