BOGOR- Para peternak masih menunggu kepastian pemerintah membeli ayam mereka. Pekan lalu, Kementerian Perdagangan merilis surat imbuan agar peritel dan kementerian menyerap pasokan daging ayam ras di peternak untuk menaikkan harga ayam ras potong. Jika tidak, para peternak dipastikan gulung tikar. Sekertaris Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN), Karma mengaku selama sebulan terakhir tidak ada perubahan yang signifikan kenaikan harga ayam ras. Diakuinya, di saat harga ayam Rp9 ribu-Rp10 ribu/kg, banyak dari peternak menutup usahanya karena tidak bisa balik modal. Pasalnya, biaya modal atau harga pokok produksinya masih dikisaran Rp17 ribu- Rp19 ribu/kg. \"Kami peternak rugi besar, bahkan ada yang sampai jual rumah, dan gulung tikar karena harga hanya menutup 40 persen dari biaya produksi dan itu terjadi cukup lama sekitar tiga minggu, terangnya kepada Fajar Indonesia Network/Radar Cirebon Group. Meski kini, sudah mencapai Rp19 ribu/kg , namun menurut Karma hal itu hanya obat penenang sementara. Pasalnya stok dari gudang beku (cold storage) para ritel mulai yang menipis, sehingga barang sedikit dan harga mulai terdongkrak. \"Kami berharap harga bisa tetap bertahan di atas Rp 19.000/kg terus sampai ke depannya, agar peternak mandiri seperti kami bisa tetap bertahan,” paparnya. Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama stakeholder peternak ayam ras telah menyepakati harga ayam hidup(live bird) bisa stabil sesuai dengan harga acuan Kementerian Perdagangan hingga akhir Juni lalu. Berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 96 Tahun 2018, harga acuan Live Bird adalah Rp18 ribu-Rp20 ribu/kg, namun di Jawa Tengah dan Jawa Timur harga LB ada dikisaran Rp8 ribu-Rp10 ribu, sedangkan harga rataan daging ayam di konsumenmencapai Rp35ribu-Rp40 ribu. Amran menjelaskan Kementan telah mengundang secara maraton para pelaku perunggasan, pakar, dan unsur pemerintahan terkait untuk membahas situasi dansolusinya. Ada ketidak beresan dari awal. Bisa kita lihat, ada disparitas harga yang sangat tinggi antara harga dari peternak dan harga di tingkat konsumen, jelasnya. Kecurigaan Amran cukup beralasan. Dari data Kementan, produksi perunggasan di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 201, produksi ayam mencapai 3,6 juta ton, sementara konsumsi daging ahnya 3,1 juta ton. Ini berarti masih ada surplus sebesar 305.127 ton. “Ini merupakan peluang untuk bisa ekspor ke luar negeri, tapi ini kok malah harganya turun,” paparnya. Amran meminta satgas Pangan melacak oknum yang bermain dalam situasi ini. “Kita akan menambahkan anggota satgas pangan untuk mencari pihak-pihak yang bermain dalam situasi penurun harga ayam hidup karena telah meresahkan peternak,” tandasnya. (don/fin/tgr)
Pemberantasan Kartel Ayam Lambat
Senin 08-07-2019,06:06 WIB
Reporter : Husain Ali
Editor : Husain Ali
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 23-10-2026,11:00 WIB
395 Orang Terdampak MBG di Cirebon, Kepala SPPG Akhirnya Dicopot
Jumat 23-10-2026,05:25 WIB
John Herdman Siapkan Timnas Indonesia ke Piala Dunia 2030, Sport Science dan Pemain Diaspora Jadi Kunci
Kamis 22-10-2026,19:28 WIB
Dari Karhutla hingga Keracunan MBG, Ini Tuntutan Mahasiswa di DPRD Kota Cirebon
Jumat 23-10-2026,13:52 WIB
Lempar Batu Bus Suporter Persija di Tol Cirebon, Lima Pelaku Ditangkap
Jumat 23-10-2026,08:20 WIB
Tinggal 2 Langkah Lalu Disumpah, Naturalisasi Taisei Marukawa Digadang-gadang untuk Piala Asia 2027
Terkini
Jumat 23-10-2026,18:30 WIB
Warga Desa Ambit Cirebon Tuntut Kuwu Mundur, BPD Siapkan Langkah Lanjutan
Jumat 23-10-2026,18:00 WIB
Kenali Tanda Awal Asma pada Bayi dan Balita, dari Batuk Malam hingga Napas Berbunyi
Jumat 23-10-2026,17:28 WIB
Demo Tolak MBG: Kecewa Wali Kota dan Ketua DPRD Absen, Ancam Aksi Lebih Besar
Jumat 23-10-2026,17:22 WIB
Punya Darah Tinggi Kronis? Jalan Kaki Bisa Membantu, Ini Cara Aman Melakukannya
Jumat 23-10-2026,17:00 WIB