Daya Motor

Tragis, Anak-anak Jadi Korban Perang di Afganistan

Tragis, Anak-anak Jadi Korban Perang di Afganistan

Lembaga donor juga menyerukan pemerintah Inggris untuk berkomitmen serta mendorong negara aliansinya untuk berhenti menggunakan senjata peledak di area dengan penduduk.

 

Afghanistan telah mengalami konflik berkepanjangan dan menyebabkan ribuan penduduk sipil meninggal. Pasukan Amerika Serikat telah berada di negara tersebut sejak tahun 2001 dalam operasi memburu Taliban yang disebut bertanggungjawab atas serangan 11 September di New York. Taliban kemudian diturunkan paksa dari kekuasaan namun kemudian muncul kembali dan kini menguasai lebih banyak wilayah dibanding ketika Amerika masuk ke Afghanistan.

 

Pada Februari lalu, Amerika Serikat mulai menarik pasukannya setelah menyepakati perjanjian dengan para pemberontak. Namun, kekerasan di negara tersebut meningkat kembali setelah Taliban meningkatkan serangan akibat negosiasi yang mandek dengan pemerintahan Afghanistan. Akhir pekan lalu, roket di Kabul menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai 30 lainnya. Hasil investigasi BBC tahun lalu menemukan, jika kekerasan telah berdampak di hampir seluruh wilayah Afghanistan dengan korban yang jatuh setiap hari, pada Agustus 2019.
Banyak pengamat memperingatkan jika militer Afghanistan tak terlalu kuat untuk mengatasi pemberontakan, setelah Amerika Serikat pergi. Namun, Amerika Serikat mengumumkan pengurangan anggaran, pada minggu lalu dan menarik 2.000 pasukan di pertengahan Januari tahun depan. Diperkirakan tersisa 2.500 anggota militer Amerika Serikat di Afghanistan.

 

Selain Amerika Serikat, Inggris juga sempat terlibat dalam konflik di Afghanistan. Selama 13 tahun, antara 2001 hingga 2014, Inggris juga terlibat dalam konflik melawan Taliban dan Al Qaeda. Namun, di akhir 2014 seluruh pasukan Inggris telah ditarik dari Afghanistan. (bbc/jpnn)

 

https://www.youtube.com/watch?v=0ExS8iKtUOo

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: