Banyak yang Salah Paham! IDI Jabar Luruskan Isu Super Flu yang Meresahkan
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat, dr H Moh Luthfi SpPD Subs HOM(K) FINASIM MMRS--
CIREBON, RADARCIREBON.COM – Munculnya varian influenza H3N2 subclade K yang belakangan dikenal luas di masyarakat dengan sebutan “super flu” kembali menjadi perhatian publik.
Secara nasional, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sebanyak 62 kasus, dengan 10 di antaranya berasal dari wilayah Jawa Barat (Jabar).
Menanggapi hal tersebut, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jabat dr H Moh Lutfhi, memberikan penjelasan terkait karakteristik virus serta langkah penanganannya.
BACA JUGA:Heboh Superflu H3N2, Ini Penjelasan Menkes yang Bikin Masyarakat Lega
Ia menyampaikan, seluruh pasien di Jawa Barat telah menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan metode whole genome sequencing untuk memastikan jenis dan sifat virus secara lebih mendalam.
“Dari informasi yang kami terima, terdapat 10 pasien di Jabar yang hasil pemeriksaan whole genome sequencing-nya dinyatakan positif,” ujar Lutfhi.
Meski demikian, IDI Jabar belum dapat mengungkap secara rinci wilayah persebaran kasus tersebut.
Menurut Lutfhi, proses pemetaan lokasi dan pelacakan penularan merupakan kewenangan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bersama Kementerian Kesehatan.
BACA JUGA:OJK Siapkan Aturan Baru Financial Influencer, Berlaku 2026! Investor Ritel Wajib Tahu
“Kami belum menerima data detail mengenai sebaran wilayahnya. Biasanya surveilans epidemiologi dilakukan oleh Dinas Kesehatan dan Kementerian Kesehatan,” jelasnya.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat, Lutfhi juga menekankan pentingnya meluruskan istilah “super flu” yang ramai digunakan.
Ia menegaskan, istilah tersebut bukan merupakan terminologi medis resmi.
Dalam dunia kedokteran, kondisi tersebut lebih tepat disebut sebagai influenza like illness (ILI), yakni sekumpulan gejala mirip flu yang dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus.
“ILI tidak selalu disebabkan oleh satu virus tertentu. Bisa karena influenza, tetapi juga bisa dipicu oleh virus lain seperti rhinovirus, parainfluenza, atau virus pernapasan lainnya,” paparnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: reportase


