Provinsi Pasundan - Bagian III
Gambar ilustrasi dibuat dengan AI.--
Kajian-kajian budaya dan postcolonialism—sambil sebentar misalnya mengingat-ingat rencana perubahan nama stasiun Kejaksan tempo hari, bahkan kerap memunculkan parafrasa the act of naming is never innocent.
Barangkali itu pula yang terjadi pada 1948 ketika sebagian elite dan masyarakat Sunda yang diwakili Adipati Soeria Kartalegawa mendeklarasikan Negara Pasundan.
Dalam kecamuk perang mempertahankan kemerdekaan dan tarik-menarik berbagai kepentingan politik, mereka memilih nama Pasundan.
Huru-hara dan pergolakan revolusi tampaknya tidak menghilangkan keyakinan bahwa sebuah nama merupakan sumber legitimasi.
Lepas dari isu federalisme atau campur tangan kolonial, nama Pasundan dipilih karena memang memanggil ingatan yang lebih komunal dan jauh lebih tua dari negara yang hendak didirikan.
Persoalan muncul dari bagian timur Negara Pasundan. Tokoh-tokoh di Cirebon secara politik lebih setia pada Republik.
Mereka juga punya kesadaran budaya yang membuat mawas terhadap reduksi identitas kelompok dari daratan tengah-selatan.
Tome Pires memang menempatkan Cherimon sebagai awal dunia Jawa setelah Sungai Cimanuk.
Namun persilangan yang begitu kompleks membuat Cirebon tumbuh menjadi kawasan yang tidak lagi sederhana. “Cirebon memiliki bandar yang baik”, tulis Pires. “Didatangi beberapa jung, menghasilkan beras dan bahan makanan, serta dihuni para saudagar yang aktif dalam perdagangan”.
Dari pelabuhan Cirebon, hubungan dengan Demak, Malaka, dan bandar-bandar lain di pesisir utara Jawa berkembang semakin luas.
Itu terjadi sebelum bangsa Portugis tiba di nusantara. Dengan sejenak mengabaikan polemik seputar Gotrasawala, Negarakertabhumi dari korpus Wangsakerta mencatat kedatangan armada Tiongkok di Muara Jati pada awal abad lima belas.
Catatan-catatan Ma Huan memberi keterangan bahwa pelabuhan Cirebon sudah menjadi bagian dari jaringan pelayaran Asia.
Hal serupa kita dapati dari Carita Purwaka Caruban Nagari edisi Atja yang ditulis tiga dekade setelah Negarakertabhumi.
Meski disusun jauh sesudah peristiwa yang diceritakannya, naskah ini memperlihatkan konsistensi bagaimana Cirebon memahami asal-usul kotanya melalui perjumpaan demi perjumpaan.
Satu ironi kita dapati: Cirebon yang disebut pertama sebagai wilayah Jawa, justru memiliki kedekatan erat dengan dunia Sunda.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

