BPJS Kesehatan Dorong Layanan Jantung Berbasis Outcome dalam Program JKN
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito-Istimewa-radarcirebon
RADARCIREBON.COM– BPJS Kesehatan mendorong perubahan dalam layanan penyakit jantung pada Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui pendekatan Value-Based Health Care. Konsep ini menitikberatkan pada hasil Kesehatan (health outcomes) dan total biaya selama rangkaian pelayanan sebagai ukuran dalam menciptakan nilai bagi peserta.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menyebut transformasi layanan Kesehatan menjadi penting di tengah tantangan meningkatnya biaya pelayanan. Menurutnya, pembiayaan JKN perlu diarahkan tidak hanya untuk menjamin akses pelayanan, tetapi juga menghasilkan manfaat Kesehatan yang optimal bagi peserta.
"Tantangan peningkatan biaya pelayanan Kesehatan terlihat dari tingginya pembiayaan di rumah sakit. Dari data BPJS Kesehatan, total biaya pelayanan Kesehatan Program JKN pada 2025 mencapai Rp191,3 triliun, dengan sekitar 87,1 persen realisasi pembiayaan berasal dari pelayanan di rumah sakit," terang Pujo, Rabu (16/9).
Salah satu layanan yang menjadi perhatian adalah penyakit jantung. Tingginya jumlah kasus turut berpengaruh terhadap utilisasi layanan serta pembiayaan Program JKN. Sepanjang 2025, penyakit jantung yang dijamin JKN tercatat lebih dari 29,7 juta kasus dengan total pembiayaan sekitar Rp17,35 triliun.
BACA JUGA:Majalengka Dikepung Narkoba: 4 Perkara Diungkap Polisi dalam Dua Pekan
Karena itu, pengendalian penyakit jantung dinilai perlu dimulai dari layanan kesehatan tingkat pertama. FKTP diharapkan tidak hanya berperan dalam menangani pasien, tetapi juga memperkuat langkah promotif dan preventif untuk mengendalikan faktor risiko.
"Tingginya kebutuhan pelayanan jantung dalam ekosistem JKN perlu diantisipasi sejak dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dengan mengendalikan faktor risiko. Banyak kasus penyakit jantung yang merupakan dampak faktor risiko yang tidak terkendali di hulu, untuk itu perlu penguatan pelayanan di tingkat FKTP,” jelasnya.
Pujo mengatakan penguatan FKTP dalam pendekatan Value-Based Health Care antara lain dilakukan melalui pengendalian tekanan darah dan gula darah, pemeriksaan HbA1C secara berkala, peningkatan kepatuhan terhadap pengobatan, hingga pemantauan peserta yang memiliki risiko tinggi.
Sementara di tingkat rumah sakit, orientasi pelayanan diarahkan pada peningkatan mutu dan hasil kesehatan pasien. Sejumlah strategi yang didorong meliputi pengambilan keputusan secara terpadu melalui Heart Team, penerapan tata laksana klinis sesuai pedoman, pemeriksaan Fractional Flow Reserve (FFR), serta staged revascularization.
BACA JUGA:Haul Agung Sunan Gunung Jati Digelar Akhir Pekan Ini, Ada 9 Elemen Bersatu
"Di rumah sakit, BPJS Kesehatan juga mendorong pelayanan yang berorientasi pada mutu dan outcome. Sejumlah pendekatan yang dikembangkan antara lain pengambilan keputusan terpadu melalui Heart Team, tata laksana klinis sesuai pedoman, pemeriksaan Fractional Flow Reserve (FFR), dan staged revascularization," tambah Pujo.
Selain pendekatan pelayanan, BPJS Kesehatan juga mendorong perubahan dalam pemantauan mutu layanan intervensi jantung. Indikator yang sebelumnya lebih banyak melihat proses diarahkan untuk mengukur hasil atau outcome pelayanan.
Sejumlah aspek yang menjadi perhatian mencakup waktu tanggap kritis, keselamatan pasien setelah tindakan, akurasi intervensi, kualitas pemulihan, kepatuhan terhadap protokol, serta efisiensi sistem rujukan.
“Kita ingin mengubah paradigma dari paying for services menjadi purchasing better outcomes, dari treating events menjadi preventing events, serta dari mengukur utilisasi menjadi mengukur outcome,” kata Pujo.
BACA JUGA:Masuk Pot 3 Kualifikasi Piala Dunia 2030, Timnas Indonesia OTW Ketemu Vietnam yang Suka Protes Naturalisasi
Dukungan terhadap penguatan layanan kesehatan juga disampaikan Kodam III Siliwangi. Mewakili Panglima Komando Daerah Militer III Siliwangi, Pamen Ahli Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Lingkungan Hidup, Tri Adrijanto Santoso, mengatakan kualitas pelayanan kesehatan tidak semata-mata bergantung pada teknologi yang tersedia.
Menurutnya, aspek aksesibilitas, kecepatan pelayanan, dan kualitas layanan juga menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.
"Kodam III Siliwangi mendukung program pemerintah dalam upaya promotif dan preventif, termasuk melalui edukasi kepada masyarakat. Dengan kolaborasi lintas sektor diharapkan dapat menjadi kontribusi positif dalam peningkatan kualitas kesehatan,” ujar Tri.
Di sisi fasilitas pelayanan kesehatan, Rumah Sakit Tingkat II Dustira menyatakan komitmennya untuk terus meningkatkan mutu layanan, termasuk bagi peserta JKN yang membutuhkan penanganan penyakit jantung secara komprehensif.
BACA JUGA:Jay Idzes Cedera Paha, Diprediksi Absen Bela Timnas di FIFA ASEAN Cup 2026, Sassuolo Ungkap Kondisi Terkini
Kepala Rumah Sakit Tingkat II Dustira Muchlas Fahmi mengatakan peningkatan kualitas pelayanan dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan berbagai fasilitas dan layanan pendukung.
"Pemanfaatan layanan jantung oleh peserta JKN di RS Dustira bisa dikatakan tinggi. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, RS Dustira telah melayani 975 pasien cathlab yang semuanya merupakan peserta JKN,” ungkap Muchlas.
Muchlas menambahkan bahwa pelayanan kesehatan merupakan proses yang berlangsung terus-menerus. Karena itu, peningkatan kualitas harus dilakukan secara konsisten dengan memperhatikan kecepatan, ketepatan, keamanan, mutu, serta kebutuhan pasien.
Sementara itu, Koordinator BPJS Watch, Timbul Siregar, menyoroti penyakit jantung sebagai salah satu penyakit dengan biaya pelayanan tinggi dalam Program JKN. Ia menilai langkah pencegahan tetap diperlukan untuk mengurangi risiko munculnya penyakit tersebut.
BACA JUGA:Persib Ukir Sejarah di Korea Selatan, Julio Cesar Malah Dilarikan ke Rumah Sakit
"Penyakit jantung perlu menjadi perhatian pemerintah karena salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penyakit tersebut berkaitan dengan gaya hidup. Untuk menekan tingginya angka penyakit tersebut, diperlukan upaya promotif dan preventif, termasuk menerapkan pola hidup sehat,” ucap Timbul.
Timbul juga mendorong agar Program JKN terus meningkatkan efisiensi melalui pendekatan Value-Based Health Care yang berorientasi pada outcome. Menurutnya, upaya meningkatkan kualitas kesehatan memiliki peran penting karena kesehatan menjadi salah satu modal dalam pembangunan bangsa. (cep)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


