Saya Tidak Lulus SMA (Seri 4-Habis)
--
Posisi saya nanggung. Junior college sudah selesai, sisa dua tahun bisa dapat gelar Bachelor (S1).
BACA JUGA:Saya Tidak Lulus SMA (Seri 3)
Akhirnya saya memutuskan untuk bertahan di Amerika, tapi memilih universitas yang lebih terjangkau secara biaya. Goodbye Berkeley, karena biayanya terlalu mahal. Puluhan ribu dollar hanya untuk tuition setahun. Goodbye KU, terlalu repot untuk pindah-pindahan ke negara bagian yang berbeda lagi, di saat uang sangat mepet.
Semua saya putuskan sendiri. Tanpa konsultasi apa pun kepada orang tua. Belakangan, waktu bicara dengan Abah soal ini, dia bilang begini: "Sebenarnya, kalau waktu itu kamu ngeyel masuk Berkeley, kita bisa saja mencari cara untuk memenuhi biayanya. Tapi ya sudah".
Saya akhirnya memutuskan untuk tetap di Sacramento. Masuk di California State University Sacramento, yang populer disebut Sacramento State atau Sac State.
Biaya SPP-nya jauh di bawah dua kampus impian saya. Tapi tetap memiliki program Bisnis yang terbilang bagus di California. Kalau dibandingkan dengan Berkeley, biayanya mungkin hanya seperempatnya.
BACA JUGA:Asian Games 2026: Indonesia Bidik 4 Emas Hari Ini, Peluang Datang dari 6 Cabor
Belum lagi biaya hidup. Tinggal di Berkeley, yang terletak di kawasan Bay Area dekat San Francisco, sedikitnya dua kali lebih mahal.
Kemudahan biaya lain: Sac State memberi toleransi kepada mahasiswanya yang berasal dari negara terdampak krisis ekonomi. Kami boleh mengangsur pembayaran.
Jadilah saya kuliah di Sac State. Jurusan Bisnis konsentrasi Marketing. Karena uang kiriman dari Indonesia turun superdrastis, saya harus menghemat biaya tinggal. Kali ini menyewa sebuah rumah bersama tiga teman lain dari Indonesia. Hemat biaya banyak.
Saya juga bekerja di kafetaria kampus. Jadi pelayan, kasir, kitchen helper (asisten koki), juga cuci piring.
Penghasilan tambahan: Jual beli koleksi mainan via eBay (waktu itu baru muncul dan booming. Khususnya action figures dan miniatur die cast.
Penghasilan tambahan lain: Mengerjakan tugas sekolah siswa internasional lain. Khususnya tugas-tugas esai Bahasa Inggris. Ini saya bisa menarik tarif lumayan. Wkwkwk...
Life must go on!
***
BACA JUGA:Jumat Berkah Polsek Pabuaran Sasar 100 Pengguna Jalan, Warga Diingatkan Tertib Lalu Lintas
Salah satu cita-cita saya dulu adalah bekerja di Advertising. Bikin iklan-iklan yang kreatif. Di jurusan saya dulu, ada pecahan konsentrasinya. Marketing Advertising.
Tapi kemudian saya terpaksa "belok" ke konsentrasi International Marketing. Gara-gara ketemu profesor (dosen) yang potensi merepotkan. Wkwkwk...
Ceritanya begini. Di kelas Advertising dasar, saya merasa yakin akan dapat nilai A. Terburuk B+. Karena di sana, semua kelas sudah punya silabus jelas. Sejak hari pertama di setiap kelas, kita sudah diberi tahu harus melakukan apa untuk mendapatkan nilai terbaik. Tinggal kita mau ngotot atau tidak untuk meraih nilai ujian sesuai target, juga mau atau tidak mengerjakan tugas-tugas ekstra kredit.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

