Mari Mas

Mari Mas

Harjanto jugalah yang setiap Mei memperingati tragedi Mei 1998 —dengan caranya sendiri. Ia pernah membuat pementasan ketoprak Putri Cino —mengisahkan tragedi itu. Salah satu bintangnya Soimah —sebelum ngetop seperti sekarang.

Tahun lalu Harjanto jadi berita besar: memperingati tragedi Mei dengan rujak pare dan sambal kecombrang. Pare sebagai lambang kepahitan yang membawa kebaikan. Bunga kecombrang sebagai simbol wanita Tionghoa.

Ia ingin peringatan tragedi Mei 98 ditandai dengan sajian makanan —yang bisa mirip peringatan hari Bak Cang.

Di mata warga Tionghoa, Harjanto sangat populer dengan TikTok-nya. Selalu mengena. Pendek. Isinya sering menjadi bahan renungan yang dalam.

Misalnya TikTok ini: ia memeragakan kunci gembok paling rumit dari India. Untuk membuka satu gembok itu diperlukan beberapa kunci. Kunci pertama hanya untuk membuka lubang kunci kedua. Dan seterusnya. Sampai lima kunci.

Pesan moral yang ingin ia sampaikan: apakah perlu sesulit itu untuk membuka hati manusia? “Sudah berapa TiktTok yang diunggah?\" tanya saya.

\"Sudah lebih 600\".

Wow. Ia bukan anak muda lagi. Tapi main TikTok-nya mengagumkan.

\"Kapan Anda mulai ber-TikTok?\"

\"Agustus tahun lalu,\" jawabnya.

Baru tujuh bulan. Sudah lebih 600 TikTok diunggah.

Padahal ia seorang pengusaha besar. Juga ketua sekolah Karang Turi yang terkenal itu —bos-bos Jarum tamatan Karang Turi. Ia juga ketua rumah sakit di Semarang. Masih menjabat pula ketua RT di kampungnya.

Rupanya TikTok bisa dimanfaatkan untuk promosi perusahaannya: Marimas. Yakni sirup dalam sachet. Yang belakangan berkembang pesat.

Ide awalnya memang unik: orang jual sirup itu pasti di botol. Itu sudah tidak cocok lagi. Maka ia masuk ke bisnis sirup. Beda cara. Sirup dimasukkan sachet.

\"Di semua barang konsumsi, yang paling laku adalah unit paling kecil,\" katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: