Soal Perbedaan 1 Syawal 1444 H, Begini Tanggapan Ustad Adi Hidayat

Soal Perbedaan 1 Syawal 1444 H, Begini Tanggapan Ustad Adi Hidayat

Ustadz Adi Hidayat-Ist/Tangkapan Layar-

RADARCIREBON.COM – PP Muhammadiyah dan pemerintah berbeda pandangan soal penentuan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1444 H / 2023 M.

PP Muhammadiyah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1444 H / 2023 M jatuh pada Jumat 21 April 2023 atau hari ini.

Sementara, pemerintah dan ormas keagamaan lainnya seperti NU menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1444 H / 2023 M jatuh pada Sabtu 22 April 2023.

BACA JUGA:Unik! Pemudik Sampaikan Curhatan Lewat Sebuah Kalimat di Belakang Kendaraan, Ini Maksudnya

Perbedaan tersebut lantaran adanya metode serta khususnya kriteria yang digunakan dalam penghitungan untuk penetapan 1 Syawal berbeda.

Meski ada perbedaan, semua metode tersebut sesuai ajaran atau tuntunan dari Nabi Muhammad SAW.

Terkait metode penetapan 1 Syawal, Ustaz Adi Hidayat mengatakan terdapat dua metode yang bisa digunakan dalam penentuan Hari Raya Idul Fitri tersebut.

BACA JUGA:Polres Majalengka Lepas Pemudik Menuju Semarang

Dua metodologi tersebut adalah rukyatul hilal dan hisab.

Metode rukyatul hilal (melihat hilal), ungkap Ustadz Adi Hidayat, merupakan metode yang biasa dipraktekkan pada zaman Nabi Muhammad SAW, termasuk dalam menentukan waktu-waktu ibadah harian seperti sholat.

Dijelaskan, metode rukyat sudah menjadi tradisi di era Nabi Muhammad SAW, karena sesuai dengan kemampuan masyarakat pada saat itu.

"Kenapa rukyat? Karena memang pada umumnya di zaman Nabi, masyarakatnya memang tidak bisa membaca, menulis, apalagi menghitung secara kompleks," ujar Ustadz Adi Hidayat, seperti tayang dalam kanal Youtube Adi Hidayat Official.

BACA JUGA:Polres Majalengka Lepas Pemudik Menuju Semarang

Menurutnya, faktor kemudahan ialah alasan yang mendasari Nabi Muhammad SAW memilih menggunakan metode melihat hilal.

Sebab pada zaman itu, belum ada yang mampu melakukan analisis perhitungan astronomis.

"Karena kami ini masyarakat yang ummi, kata nabi, tidak ada pakar yang bisa ngitung dengan kompleks sehingga bisa memetakan waktu dengan mudah cepat berdasarkan hitungan. Karena sifatnya demikian, maka yang digunakan pada masa itu adalah melihat (rukyat)," ujar Ustadz Adi Hidayat.

Hal tersebut dikatakan dalam sabda Rasulullah SAW, "Kita adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu demikian dan demikian, yakni suatu kali 29 hari dan suatu 30 hari". (HR. Bukhari).

BACA JUGA:Sehari, Polisi Tangkap Geng Motor di Dua Tempat Berbeda

Meski demikian, umat Muslim tidak harus mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah SAW apabila sudah menemukan metode yang lebih mudah, yakni metode hisab.

"Jika Anda memang merasakan mudah, silakan praktikkan karena kami, kata nabi, dulu pada umumnya nggak bisa ngitung. Maka bagi yang mudah untuk itu (hisab) silakan praktikkan.”

“Baik menggunakan hisab ataupun rukyat, prinsipnya adalah merasakan kehadiran Ramadhan," ujar Ustadz Adi Hidayat.

"Jadi baik rukyat atau pun hisab pada dasarnya metodologi untuk menetapkan. Dipilih untuk memudahkan bukan untuk diperselisihkan," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: