Delegasi Indonesia Diterima Dengan Baik oleh AS, Hasil Negosiasi Tarif Impor Akan Diumumkan 60 Hari Kedepan
Menko Perekonomian RI Airlangga Hartarto bertemu dengan pihak Amerika Serikat (AS) untuk bernegosiasi terkait tarif impor 32 persen di Washington DC, Jumat 18 April 2025.-@airlanggahartarto_official-Instagram
RADARCIREBON.COM - Kekhawatiran para pengusaha rotan di Kabupaten Cirebon terkait kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menaikkan tarif impor 32 persen bisa sedikit terobati.
Pasalnya, delegasi Indonesia menjadi yang pertama diterima oleh AS untuk melakukan negosiasi terkait kebijakan Donald Trump soal tarif impor.
Kabar baik ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Washington DC, Jumat 18 April 2025 kemarin.
BACA JUGA:Sidak Lokasi Tambang di Subang, Dedi Mulyadi Langsung Minta Ditutup, Begini Alasannya
BACA JUGA:5 Rekomendasi Bahan Herbal yang Ampuh Atasi Sakit Gigi
BACA JUGA:Usai Gagal Lakukan Percobaan Bunuh Diri, Begini Kondisi APD
"Indonesia merupakan salah satu negara yang diterima lebih awal," kata Airlangga, dalam konferensi pers yang disiarkan daring dari Jakarta.
Tidak hanya Indonesia, negara-negara seperti Vietnam, Jepang, dan Italia juga telah melakukan komunikasi serupa dengan pemerintah Amerika Serikat.
Airlangga menyebut, dalam proses negosiasi tersebut, delegasi Indonesia aktif menjalin komunikasi dengan sejumlah pejabat penting di Amerika, termasuk mengadakan pertemuan dengan Secretary of Commerce AS Howard Lutnick.
Bahkan, dengan penetrasi aktif yang dilakukan delegasi Indonesia, AS menyambut baik. Kedua negara pun sepakat untuk menuntaskan negosiasi tarif resiprokal dalam waktu 60 hari ke depan.
BACA JUGA:Kronologi Percobaan Bunuh Diri yang Dilakukan Karyawati BUMD di Kota Cirebon
BACA JUGA:Penguatan Mutu Pendidikan Melalui Pendampingan Pengawas
BACA JUGA:Punya Masalah Keluarga, Seorang Karyawati di Cirebon Lakukan Uji Coba Bunuh Diri
Airlangga mengungkap beberapa poin utama yang diajukan Indonesia, antara lain peningkatan pembelian energi seperti LPG, minyak mentah dan gasoline dari AS.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: reportase


