Anggota Dewan Kompak Absen

Anggota Dewan Kompak Absen

SUMBER - Sikap anggota DPRD Kabupaten Cirebon patut dipertanyakan. Pasalnya, hanya belasan anggota dewan yang menghadiri rapat paripurna istimewa DPRD Kabupaten Cirebon mendengarkan pidato kenegaraan Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudoyono (SBY), dalam rangka peringatan HUT ke-69 kemerdekaan RI tahun 2014 di depan sidang bersama DPR dan DPD, kemarin pagi (15/8). Berdasarkan informasi yang didapat dari sekretariat DPRD Kabupaten Cirebon, dari 49 anggota DPRD Kabupaten Cirebon, hanya 15 orang yang menghadiri rapat paripurna istimewa ini. Padahal, mendengarkan pidato kenegaraan Presiden RI merupakan rangkaian kegiatan pemerintah daerah dalam menyambut HUT ke-69 RI tahun 2014 ini. Tentu saja, minimnya kehadiran anggota dewan ini mengundang keprihatinan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon, Junaedi ST. Kepada Radar, ia mengatakan bahwa sangat disayangkan dalam momentum penting dan sakral yang terjadi satu tahun sekali ini, sebagian besar rekan-rekan anggota dewan tidak bisa hadir dalam rapat paripurna istimewa ini. “Saya tidak tahu alasan teman-teman dewan tidak hadir, tapi sebagai unsur pimpinan dewan saya kecewa dan prihatin,” katanya. Peristiwa ini tentu akan menjadi catatan bersama yang akan disampaikan pimpinan dewan kepada sekretariat dan pimpinan fraksi agar bisa memperbaiki kinerja para anggotanya. Kemudian, akan dijadikan bahan evaluasi tahun depan yang notabene akan dihuni oleh anggota DPRD yang baru. “Ini akan menjadi bahan evaluasi bersama, saya harap tahun depan anggota dewannya lebih semangat dan rajin,” imbuhnya. KETUA DPRD JUGA TAK HADIR Tidak hanya anggota saja, Ketua DPRD Kabupaten Cirebon H Mustofa SH pun tidak hadir dalam paripurna istimewa tersebut. Junaedi menjelaskan, ketidakhadiran ketua DPRD secara lisan sebelumnya sudah dikonfirmasi bahwa pihaknya tidak bisa memimpin rapat paripurna, lantaran ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan. “Kalau pak ketua, informasi ketidakhadirannya sudah disampaikan,” jelasnya. Saat disinggung mengenai ketidakhadiran sebagian besar anggota dewan dalam rapat paripurna istimewa ini disebabkan oleh semakin terkikisnya nilai-nilai nasionalisme dari anggota dewan Kabupaten Cirebon. Secara tegas, pihaknya tidak setuju dengan adanya anggapan itu. Karena, terlalu ekstrem jika nilai nasionalisme seseorang hanya diukur dari ketidakhadiran dalam acara seremonial kenegaraan. “Saya kira penilaian tersebut terlalu jauh ya. Saya yakin, teman-teman masih mempunyai nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme yang tinggi terhadap Indonesia. Namun, tetap saja namanya anggota dewan yang notabene sebagai publik figur harus bisa memilah,” ungkapnya. Mengenai pidato presiden Susilo Bambang Yudoyono, politisi PKS ini menilai bahwa pemimpin negara ini menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat Indonesia dalam membangun sistem demokrasi, sistem ekonomi dan sistem kenegaraan lainnya harus didasari oleh semangat persatuan dan kesatuan. Sebab tidak mudah untuk membangun sistem di negara yang sangat besar dan luas tanpa adanya semangat bhineka tunggal ika itu. “Menurut saya itu menarik ya dan hal ini perlu diaplikasikan oleh seluruh daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Cirebon,” terangnya. Kemudian, pesan yang cukup menarik lainnya adalah menjaga keindonesiaan. Ini adalah ajakan yang sangat baik dan menjadi kewajiban seluruh rakyat Indonesia untuk menjaga identitas keindonesiaannya. “Benar yang dikatakan oleh Pak Presiden, tantangan bangsa kita ke depan adalah bagaimana mempertahankan dan menjaga keindonesiaan kita, apalagi saat ini paham-paham dari luar sangat mengganggu integritas dan identitas negara kita. Pancasila harus dipertahankan,” pungkasnya. (jun)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: