Merasa Mapan, Tak Perlu Pasangan

Merasa Mapan, Tak Perlu Pasangan

\"coverstory\"PEREMPUAN mandiri, karir bagus, ekonomi tinggi. Siapa yang tidak mau? Tentu mayoritas orang mendambakannya. Namun tidak sedikit, penyebab itulah yang menjadi akar perceraian. Karena merasa sudah bisa mandiri dengan ekonomi berkecukupan, sebagian para istri memutuskan hidup tanpa pasangan. Itulah yang diamati Rini Hastuti, penulis sekaligus pemerhati perempuan. \"Kalau zaman generasi dahulu, perempuan mau tersinggung, mau sakit hati terhadap suami, keluarga besar suami, atau apapun itu, dia masih berusaha menahan diri untuk mengucap kata \"cerai\" atau mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Karena tentu saja dia berpikir ulang, bagaimana kelangsungan hidupnya dan anak-anaknya,\" ujarnya. Apakah dibenarkan sebagai perempuan begitu mudah mengajukan gugatan cerai, meski secara finansial perempuan tidak bergantung pada pasangan? Rini menjawab, tidak. Menurutnya, ada banyak aspek dalam pernikahan yang harusnya menjadi pertimbangan lebih ketika seorang perempuan mengajukan gugatan. \"Maksudnya dia harus berpikir ulang, meski mungkin secara finansial dia mampu menghidupi dirinya dan anak-anaknya. Bahwa hidup seharusnya bukan hanya faktor ekonomi semata. Memang faktor ekonomi utama, tapi bukan satu-satunya. Faktor tumbuh kembang anak, misalnya. Harus dipertimbangkan anak yang tumbuh tanpa orang tua yang lengkap pasti akan ada sesuatu yang \'miss\' dalam perkembangannya,\" terangnya. Belum lagi faktor ketenangan emosional. Kata Rini, orang yang punya pasangan, bisa berbagi, pasti secara kasat mata kelihatan hidupnya lebih tenang. Jangan lupakan juga bahwa pernikahan adalah bagian dari ibadah. \"Dalam beribadah, pasti tidak selalu berjalan mulus. Akan selalu ada hambatan, rintangan, cobaan, dan berbagai godaan,\" lanjutnya. Lalu, dari sisi lifestyle atau gaya hidup pun dinilai Rini tuntutan perempuan zaman sekarang memang cukup tinggi. Sangat signifikan perbedaannya dibandingkan generasi sebelumnya. Tuntutan lifestyle ini juga secara tidak langsung berkontribusi pada angka perceraian. \"Dari satu sisi, lifestyle tinggi juga berdampak pada kebutuhan finansial yang tinggi. Di sisi lain, lifestyle, terutama faktor media sosial juga berperan cukup tinggi dalam andil komunikasi dengan dunia luar, di mana untuk yang tidak tahan dengan godaan, akan membuka pintu perselingkuhan. Ujung-ujungnya cerai juga. Jadi saling mempengaruhi,\" pungkasnya. (mike dwi setiawati)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: