Cari Apa Saja, Ada di Muludan

Cari Apa Saja, Ada di Muludan

Tiap Tahun Pedagang dan Pengunjung Bertambah Bulan Desember ini, masyarakat Cirebon dan sekitarnya bakal menikmati hiburan rakyat pasar muludan. Event yang selalu hadir setiap tahun ini, terbukti mampu menyedot ribuan pengunjung. Tak salah jika jumlah pedagang selalu bertambah setiap tahunnya dari berbagai daerah. Di pasar muludan, masyarakat bisa menjumpai berbagai macam kuliner, pakaian, kerajinan tangan dengan harga yang ekonomis. Siapa mau datang ke pasar muludan? KERAMAIAN sudah mulai nampak di kompleks area Keraton Kasepuhan Cirebon, dalam menyambut tradisi muludan. Acara puncak peringatan maulid nabi di Keraton Kasepuhan ditutup dengan tradisi panjang jimat atau malam pelal yang jatuh pada 24 Desember mendatang. Namun, aktivitas pedagang dan pengunjung sudah mulai nampak sebulan sebelum acara pelal. Area seputar keraton, Masjid Sang Cipta Rasa, alun-alun pun menjadi lapak pedagang musiman tersebut. Pasar Muludan sendiri lahir dari respons masyarakat setempat atas para pengunjung keraton yang selalu meningkat untuk menyaksikan acara malam pelal. Sultan Keraton Kasepuhan XIV, PRA Arief Natadiningrat SE menjelaskan, pada tahun ini pasar muludan sudah dimulai sejak tanggal 24 November hingga 24 Desember 2015. Sultan memprediksi, jumlah pengunjung pada event muludan bisa lebih meningkat dibanding tahun lalu. Alasannya, karena momen muludan bertepatan dengan hari libur sekolah, hari libur Natal dan tahun baru. Di samping juga, karena adanya efek akses jalan tol Cipali yang mempersingkat waktu menuju ke Cirebon. \"Setiap tahun yang jelas pedagang selalu bertambah, dan rata-rata event muludan ini bisa menyedot sekitar Rp200 ribu pengunjung ke keraton,\" sebutnya kepada Radar, Kamis (10/12). Dikatakan Sultan, pada dasarnya acara tradisi muludan di keraton sendiri tidak ada yang berbeda. Hanya saja, pada tahun ini pihaknya lebih banyak mengisi tradisi muludan dengan membaca salawatan. Saat acara panjang jimat, ada iringan genjring marawis dan lantunan salawat. Sebelumnya, pada tanggal 18-24 Desember akan ada Lomba Marawisan antara pesantren. \"Kita ingin lebih banyak membaca salawat dalam kegiatan muludan ini,\" ucap Arif. Selain juga ada agenda tradisi rutin seperti Siraman Panjang, Pelal Alit, dan upacara panjang jimat. Sultan menjelaskan, adanya pasar muludan yang selalu menyedot pengunjung ini memang sedikit banyak mengganggu akses masuk ke Keraton Kasepuhan. Sehingga pihaknya berencana, menggelar pasar muludan ini lebih tertib dan tertata rapi. \"Tadinya memang kita ingin seperti Festival Muludan, namun belum terwujud tahun ini. Mudah-mudahan tahun depan,\" jelasnya. Dikatakan dia, pihaknya akan mengundang beberapa instansi untuk membicarakan ketertiban acara muludan seperti Dishubinkom, Disperindag dan juga Disporbudpar. Acara Muludan di Keraton, kata Arif, bisa saja dibuat seperti layaknya Jakarta Fair. Sehingga dengan demikian, event ini mampu menjadi ikon pariwisata di Kota Cirebon. Ketua Kelompok Pengembangan Pariwisata (Kompepar) Keraton Kasepuhan, Iman Sugiman mengatakan, menyebutkan rangkaian tradisi panjang jimat sendiri sudah dimulai dengan upacara siraman panjang yang dilakukan seminggu sebelum malam panjang jimat. Upacara ini dilakukan pada pagi hari. Benda-benda kuno dikeluarkan dan dicuci untuk dibersihkan terlebih dahulu. Air bekas cucian inilah yang selalu diperebutkan warga, karena dipercayai membawa berkat. Kemudian, museum keraton selama tujuh hari dibuka hingga malam hari. Diteruskan dengan acara mipis di keraton, yaitu membuat makanan oleh para keluarga perempuan keraton. \"Selama seminggu itu juga, ada tradisi yang dinamakan chaos, yakni Sultan akan menerima tamu seharian dari berbagai lapisan masyarakat tanpa membuat janji terlebih dahulu,\" jelasnya. Diakuinya, selama tradisi muludan berlangsung, grafik pengunjung ke keraton dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa meningkat. \"Setiap momen muludan ada peningkatan, baik pengunjung tradisional atau mereka yang ingin menyaksikan langsung upacara panjang jimat. Dalam seminggu itu biasanya kita turunkan harga tiket, agar memudahkan pengunjung ke keraton,\" jelasnya. Pengujung sendiri mulai membludak pada H-2 sebelum malam panjang jimat. Keraton Kasepuhan sendiri menyediakan sekitar 10 ribu tiket dalam seminggu itu. Jumlah itu pun disebut masih kurang dan selalu habis. \"Pasar muludan ini kan sebenarnya awal mula karena ada tradisi malam pelal yang banyak pengunjung. Kemudian dimanfaatkan pedagang untuk berjualan hingga sampai saat ini jumlah pedagang semakin tahun selalu bertambah dari berbagai daerah,\" sebutnya. (jml)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: