Pedagang Pasar Sumber Menolak Pindah ke Kenanga

Pedagang Pasar Sumber Menolak Pindah ke  Kenanga

SUMBER–  Ikatan Pedagang Pasar Sumber (IPPS) menolak pembangunan Pasar Sumber baru di Kelurahan Kenanga. Mereka ingin Pasar Sumber baru nanti tetap di lokasi semla. Penolakan itu disuarakan dengan spanduk yang bertuliskan ‘Pedagang Pasar Sumber Menuntut Pasar Permanen Tetap di Pasar Lama’ yang dipasang di pasar darurat. Spanduk dipasang di 4 titik yakni perempatan menuju kantor pemerintahan, pintu masuk dan keluar pasar darurat Sumber, serta Jalan Sultan Agung Sumber. Menurut Ketua IPPS H Ridwan, pemasangan spanduk tersebut merupakan bentuk penolakan yang berdasarkan kesepakatan bersama. Diakuinya hampir seluruh pedagang Pasar Sumber sepakat untuk menolak pemindahan pasar ke Kelurahan Kenanga. “Kami semua sepakat untuk menolak pemindahan ke Kelurahan Kenanga itu. Semoga saja dengan dipasang spanduk itu pemerintah mendengar keluhan kami yang menolak, dan bertahan untuk berjualan di pasar lama,” katanya. Penolakan yang dilakukan pedagang, kata H Ridwan didasari beberapa alasan. Pertama, lokasi Kelurahan Kenanga terlalu jauh. Karena tidak sedikit pedagang yang merupakan warga Sumber. Kedua, jika ditempatkan di Kelurahan Kenanga, hal itu berdekatan dengan pasar modern sehingga tentu akan menimbulkan persaingan. “Masyarakat lebih memilih Pasar Sumber karena lebih dekat. Jika dipindahkan ke Kenanga, maka pendapatan akan menurun, seperti warga Perbutulan, biasa ke Pasar Sumber akhirnya memilih ke Pasar Plered karena jauh. Sementara yang dari Sendang, bisa mereka ke Pasar Kalitanjung. Sementara dari Mandirancan akan beralih ke Cilimus,” bebernya. Setelah pemasangan spanduk penolakan lokasi pasar permanen, dalam waktu dekat ini perwakilan pedagang Pasar Sumber akan melayangkan surat untuk audiensi dengan para wakil rakyat. Pedagang Pasar Sumber lainnya, H Banyamani (68) menolak keras jika Pasar Sumber dipindahkan ke Kelurahan Kenanga. Menurutnya saat berjualan di pasar darurat saja, penghasilannya sudah menurun. “Kami semua tidak mau pindah. Jualan di pasar darurat saja penghasilannya kecil. Apalagi harus pindah ke Kenanga. Bisa jadi kami semua bangkrut,” katanya. (arn)  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: