Penyerangan Tokoh Agama, MUI: Polisi Harus Usut Tuntas

Penyerangan Tokoh Agama, MUI: Polisi Harus Usut Tuntas

JAKARTA - Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin menjelaskan menyikapi sejumlah kasus penganiayaan kepada ulama harus diusut tuntas oleh polisi. Ma’ruf tidak ingin kejadian serupa terulang kembali. Selain itu polisi harus menjelaskan kepada publik kasus yang sebenarnya terjadi bagaimana. “Motifnya apa. Apa nakut-nakutin ulama aja,” katanya saat dihubungi Jawa Pos (Radar Cirebon Group). Meskipun begitu, Ma’ruf mengatakan, di tengah kabar aksi penyerangan atau penganiayaan ulama itu, masih banyak informasi simpang siur. Penjelasan dari pihak polisi diharapkan bisa mengungkapkan kasus sebenarnya. Dia tidak ingin masyarakat justru mendapatkan informasi palsu alias hoax. “Katanya (pelakunya, red) orang gila. Ada yang bilang pura-pula gila,” jelasnya. Dia menegaskan sebagai warga negara, ulama juga harus dijaga aparat keamanan. Ma’ruf ingin polisi ikut menjaga ulama dari potensi adanya penyerangan atau penganiayaan. Pada prinsipnya dia tidak mau kasus penganiayaan kepada ulama kembali terulang. Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa’adi menambahkan, aksi kekerasan sampai pembunuhan tokoh agama harus diusut tuntas. Dia menginginkan supaya aksi kekerasan terhadap simbol keagamaan yang baru-baru ini cenderung terencana, sporadik, dan sistemik bisa ditangani. Penuntasan kasus-kasus tersebut perlu segera dilakukan. Sebab di tengah masyarakat saat ini berkembang rumor yang menimbulkan prasangka dan menyesatkan. Dia tak ingin prasangka itu memicu kekacauan di masyarakat. “MUI menengarai ada pihak yang ingin membuat suasana ketakutan, saling curiga, dan ketegangan dalam kehidupan bermasyarakat,” paparnya. Zainut menduga ada rekayasa jahat yang bertujuan membuat kekacauan dan konflik antar elemen masyarakat. Dengan memanfaatkan momentum tahun politik. Untuk itu MUI mengajar elemen masyarakat untuk lebih meningkatkan kewaspadaan, bersikap tenang, mengendalikan diri, tak mudah terprovokasi oleh pihak yang ingin mengadudomba. Pengamat intelijen dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menyampaikan bahwa serangan yang berulang kali terjadi di berbagai daerah dan lokasi berbeda tidak bisa disebut sekedar insiden. “Jika terjadi satu kali saya bisa percaya itu insiden,” ujarnya. Namun, karena serangan terus berulang, dia memandang bahwa serangan tersebut sudah diatur. “Menurut saya by design,” tambah dia. Pria yang akrab dipanggil Khairul itu menyebut, pengaturan serangan tersebut dilakukan jaringan fasis. “Mereka menyebar di kelompok-kelompok politik yang bahkan berhadap-hadapan,” terang dia. Sebab, dia yakin bukan jaringan atau kelompok teroris yang menggerakan para pelaku penyerangan. ”Bahwa mereka melibatkan kelompok-kelompok esktrem itu mungkin saja. Namun, perlu telaah lenbih lanjut,” bebernya. Berdasar analisisnya, sejumlah serangan belakangan tidak dilakukan untuk mencapai target jangka pendek. Melainkan ada tujuan jangka panjang. Bahkan, kata dia, infrastrukturnya sudah disiapkan sejak pemilu 2014 tuntas. Jika diibaratkan rumput atau jerami, sambung Khairul, rumput atau jerami itu sudah kering. “Siap dibakar sewaktu-waktu,” ungkap dia. Tujuannya tidak lain untuk menciptakan kecurigaan di antara masyarakat. Khairul mengakui, pendekatan melalui tokoh agama memang penting. Namun, tidak cukup sampai di situ saja. Perlu pelibatan yang lebih luas, berwarna, dan berkualitas. Polri juga wajib menunjukan aksi konkrit dengan meningkatkan security awareness publik dan meningkatkan sense of hazard pada setiap personil mereka di lapangan. (dri/wan/syn/idr)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: