Kisah Jessica Hayes Memutuskan “Menikah” dengan Yesus Kristus

Kisah Jessica Hayes Memutuskan “Menikah” dengan Yesus Kristus

Penampilan Jessica Hayes seperti pengantin pada umumnya, mengenakan gaun berwarna putih. Yang berbeda adalah saat upacara pernikahan dilangsungkan di gereja, tak tampak pengantin laki-laki. Ini karena, dalam upacara ini, Hayes menikah dengan Yesus Kristus. Saat mengucapkan ikrar, ia berjanji untuk tidak akan pernah menjalin hubungan cinta dengan orang lain sepanjang hidupnya. Dalam agama Katolik, Hayes dikenal dengan \"perawan yang disucikan\". Tak seperti biarawati, perempuan-perempuan yang disucikan tidak tinggal di komunitas tertutup. Mereka juga tidak mengenakan pakaian khusus. Mereka seperti orang kebanyakan, punya pekerjaan dan hidup normal. \"Profesi saya adalah guru, saya telah menekuninya selama 18 tahun,\" ungkap Hayes yang tinggal di Fort Wayne, Indiana, Amerika Serikat. Ketika tak mengajar, ia mendedikasikan waktunya untuk kegiatan agama. \"Rumah saya tak jauh dari gereja. Saya membantu keluarga dan teman. Saya selalu sisihkan waktu untuk Tuhan,\" katanya.

Komitmen Abadi

https://twitter.com/marnieoneill7/status/633759017978867712?s=19 Baik di dalam maupun di luar Katolik, tak banyak yang mengenal konsep perawan yang disucikan seperti Hayes karena baru diatur secara terperinci oleh otoritas Gereja Katolik sekitar 50 tahun yang lalu. Padahal, perempuan yang menjalani fungsi tersebut sudah ada sejak awal kelahiran agama ini. Pada tiga abad pertama Setelah Masehi, banyak yang meninggal sebagai martir, meninggal dunia ketika kukuh memegang keyakinan terhadap Tuhan. Salah satunya adalah Santa Agnes dari Roma, yang dikisahkan menolak menikah dengan gubernur kota itu karena lebih memilih mendedikasikan waktunya untuk Tuhan. Praktik ini menurun di abad pertengahan seiring dengan popularitas biara dan biarawati. Pada 1971, Gereja Katolik mengeluarkan dokumen yang mengakui perempuan-perempuan yang secara sukarela menyisihkan waktu untuk agama dan Tuhan. Hayes mengakui tadinya tak pernah terpikir untuk menjadi perawan yang disucikan dan menikah dengan Yesus Kristus. https://twitter.com/WJHL11/status/633306048665911296?s=19 Keinginan itu datang saat ia bertemu dengan penasehat spiritualnya. \"Dari sini, menjadi sangat jelas bahwa Tuhan menginginkan saya untuk menjalani hidup sebagai pasangan-Nya,\" kata Hayes. Keputusan itu ia ambil pada 2013 dan dua tahun kemudian ia menjalani upacara untuk menjadi perawan yang disucikan. Saat mengikuti upacara, ia antara lain berbaring di depan altar. Ia menggambarkan gestur ini sebagai simbol keinginan menghadiahkan diri ke Tuhan dan ia menerima Tuhan. Ia menyebutnya sebagai komitmen abadi. Hayes adalah satu dari 254 pengantin Yesus di Amerika, menurut data yang dikumpulkan American Association of Consecrated Virgins (USACV). Mereka berasal dari beragam profesi, mulai dari perawat, psikolog, akuntan, pengusaha, hingga anggota pemadam kebakaran. Di seluruh dunia, jumlahnya setidaknya 4.000 perawan yang disucikan menurut survei pada 2015. Vatikan mengatakan ada peningkatan tajam untuk menjadi perawan yang disucikan di berbagai tempat di dunia. Lebih dari 1.200 di antaranya tinggal di Prancis dan Italia. Selebihnya berasal dari AS, Meksiko, Rumania, Polandia, Spanyol, Jerman, Argentina, dan beberapa negara lain. Hayes mengatakan sebelum memutuskan untuk menjadi anggota ordo perawan yang disucikan, ia menjalin hubungan asmara, tapi tak pernah merasakan kepuasaan batin. \"Saya kencan ... tapi tak serius. Saya kencan dengan orang baik-baik,\" katanya. Ia mengatakan tak satu pun dari orang-orang yang ia ajak kencan ini ia anggap cocok untuk menjadi pasangan hidupnya. Menurutnya, yang paling sulit dari pilihannya ini adalah \"kesalahpahaman\" di masyarakat. \"Pilihan kami dianggap anti terhadap budaya,\" kata Hayes. \"Saya sering mendapat komentar seperti \'Oh, kamu seperti layang ya\'. Saya harus menjelaskan bahwa hubungan saya yang utama adalah dengan Tuhan saya. Saya menyerahkan fisik saya kepada Tuhan...,\" katanya.

Apakah Memang Harus Perawan?

Juli lalu, Vatikan mengeluarkan panduan yang mendapat tanggapan beragam di kalangan komunitas perawan yang disucikan. Perdebatan yang muncul lektika itu, di antaranya adalah, apakah perempuan yang menjadi anggota komunitas harus perawan secara fisik. Tak seperti biarawati, yang memang berikrar untuk selibat, pengantin Yesus ini tidak diharuskan untuk menjadi perawan selamanya. Menanggapi perdebatan ini, Vatikan mengatakan bahwa \"idealnya para perempuan menjaga badan agar tetap suci\" tapi untuk untuk menjadi anggota komunitas perawan yang disucikan, perempuan tidak harus perawan secara fisik. Bagi USACV, panduan tersebut \"mengejutkan dan sengaja dibuat pelik\". Pernyataan USACV menyebutkan bahwa tradisi secara tegas memegang teguh prinsip keperawanan \"baik secara fisik maupun spiritual\". Hayes mengatakan, dirinya secara pribadi, ingin ada penjelasan dari pihak otoritas Gereja. \"Dokumen menyebutkan calon pengantin boleh saja dari mereka yang sudah pernah menikah atau yang pernah melanggar prinsip kesucian,\" katanya. Ia menduga mungkin ini bagi perempuan yang di masa lalu pernah menjadi korban perkosaan. Bagaimanapun, ia mendukung langkah Gereja mendorong makin banyak perempuan menjadi anggota komunitas \"perawan yang disucikan\". Ia menyebut ada kebutuhan bagi orang-orang untuk memberikan \"komitmen radikal\" kepada Tuhan. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: