Rusia Mulai Ragukan Maduro

Rusia Mulai Ragukan Maduro

MOSKOW - Rusia kehilangan kepercayaan pada kemampuan Presiden Venezuela Nicolas Maduro untuk muncul sebagai pemenang dari krisis politik yang mencengkeram negara itu. Kendati demikian, Moskow masih secara terbuka mendukung rezim Maduro. Tetapi, Moskow juga mengakui keadaan buruk ekonomi Venezuela tidak dapat dihindari. Bahkan, saat ini sudah terjadi penolakan dari pihak tentara yang ditugaskan untuk memblokir pengiriman bantuan makanan dan obat-obatan agar tidak memasuki Kolombia. Penolakan itu dianggap karena pihak tentara enggan melakukan tindakan keras terhadap sesama Venezuela. \"Sayangnya, waktu tidak berada di pihak Maduro. Dalam situasi krisis ekonomi yang memburuk, suasana di masyarakat dapat dengan cepat berbalik melawannya,\" kata Vladimir Dzhabarov, wakil ketua pertama komite urusan internasional di majelis tinggi parlemen Rusia, kepada Moscow Times. Dukungan setia untuk Maduro dari Moskow sebagian berasal dari fakta, bahwa rezimnya sangat behutang budi kepada pemerintah Rusia. Rusia dikatakan telah memompa lebih dari 7,7 miliar ($ 10 miliar) ke Venezuela melalui pinjaman serta investasi. Perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA, membayar kembali utang Rusia $2,3 miliar melalui pasokan minyak. Sementara pemimpin oposisi Juan Guaido, yang diakui sebagai presiden sementara oleh Barat dan AS menyatakan, ada sekitar 300.000 orang menghadapi kematian jika bantuan yang diblokir oleh pasukan Maduro tidak dikirim. Majelis Nasional yang didominasi oposisi, yang dipimpin penantang presiden Guaido, telah memperingatkan angkatan bersenjata bahwa memblokir bantuan berarti melewati garis merah. \"Anda tahu ada garis merah, Anda tahu betul ada batasnya, Anda tahu bahwa obat-obatan, makanan, dan pasokan medis adalah batas itu,\" kata anggota parlemen Miguel Pizarro dalam sebuah pesan kepada militer. (der/fin)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: