Daya Motor

Tradisi ’Mupu’ atau Cipar Makaman Digelar di Blok Kawung

Tradisi ’Mupu’ atau Cipar Makaman Digelar di Blok Kawung

Tradisi ’Mupu’ atau Cipar Makaman Digelar di Blok Kawung-Istimewa-radarcirebon

CIREBON, RADARCIREBON.COM - Masyarakat Blok Kawung, Desa Megu Gede, Kecamatan Weru, melaksanakan tradisi mupu atau yang dikenal secara umum sebagai cipar makaman, pada Jumat, 23 Januari 2026.

Kegiatan ini dipusatkan di Makam Nagasari dan diikuti oleh warga setempat dari berbagai kalangan.

Mupu merupakan istilah lokal masyarakat Blok Kawung yang dilaksanakan sebagai bentuk ungkapan syukur atas keselamatan dan keberkahan rezeki, sekaligus sebagai sedekah yang diniatkan untuk anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

Secara makna, mupu berarti mengumpulkan, yakni mengumpulkan sedekah dari warga.

BACA JUGA:Terjadi Setiap Hari Sabtu, Kawasan Wisata Guci Kembali Diterjang Banjir Bandang

Dalam pelaksanaannya, keluarga yang salah satu anggota keluarganya dikebumikan di Makam Nagasari membawa sajian tradisi (Berkat) yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Acara mupu diawali dengan doa bersama dan tahlil, Tradisi ini juga dilaksanakan menjelang datangnya bulan suci Ramadan sebagai bentuk persiapan spiritual serta permohonan keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat dalam menjalani ibadah puasa.

Salah seorang warga Blok Kawung, Ikmah (41), mengatakan bahwa tradisi mupu telah dilakukan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat.

“Mupu ini sudah jadi kebiasaan dari orang tua dulu. Tujuannya bukan sekadar kumpul, tapi sebagai wujud syukur serta sedekah” ujarnya.

BACA JUGA:Lebih Mengerikan! Wisata Guci Tegal Kembali Diterjang Banjir Bandang

Pelaksanaan mupu berlangsung dengan tertib meskipun sempat diguyur hujan. Kondisi tersebut tidak mengurangi antusiasme warga untuk mengikuti rangkaian kegiatan hingga selesai.

Warga berharap tradisi ini dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya lokal sekaligus sarana mempererat hubungan sosial dan nilai-nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

oleh: Anita Zahroh, mahasiswa UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon Program Studi Tadris Bahasa Indonesia.



Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: