Menjaga Bumi dengan Cara Sunda: Saat Ajaran Islam Bertemu dengan Kearifan Lokal
Kearifan lokal Sunda dalam menjaga alam, sinergi nilai Islam dan tradisi Sunda Wiwitan.-Kementerian Pariwisata-
Oleh: Meadina Cantika Raihanun
SEBAGAI mahasiswa yang tumbuh di Jawa Barat, saya sering bertanya-tanya, kenapa ya daerah yang adatnya masih kuat biasanya alamnya lebih asri?
Mata airnya jernih, hutannya rimbun, dan udaranya sejuk. Di tengah isu krisis iklim sekarang, saya merasa kita sebagai generasi muda Muslim perlu melihat kembali cara orang Sunda terdahulu menjaga alam.
Bukan berarti kita mengikuti kepercayaan lama, tapi kita bisa mengambil nilai-nilai kebaikan dari tradisi tersebut untuk dipraktikkan dalam kehidupan kita sebagai Muslim.
Saya melihat ada perpaduan unik antara ajaran Islam dan nilai-nilai tradisi Sunda Wiwitan yang membuat masyarakat di sana sangat menghormati bumi.
BACA JUGA:Asyrof Soroti Banjir di Kecamatan Sumber, Dukung Penghentian Izin Perumahan yang Tak Sesuai RTRW
Alam sebagai Titipan, Bukan Milik Pribadi
Dalam Islam, kita diajarkan kalau manusia adalah khalifah atau pemimpin di bumi (QS. Al Baqarah: 30).
Tugasnya jelas: menjaga, bukan merusak. Yang menarik, prinsip ini sangat sejalan dengan filosofi Sunda yang memandang alam sebagai "titipan" (Garna, 1992).
Saya melihat ini sebagai cara pandang yang unik. Meskipun istilah "titipan" ini berakar dari tradisi Sunda Wiwitan, kita sebagai Muslim bisa mengambil hikmahnya, bahwa bumi ini adalah titipan Allah yang harus kita jaga dan dikembalikan ke generasi berikutnya dalam keadaan yang baik.
BACA JUGA:Gara-Gara Cemburu, Pria di Bandung Ini Nekat Bacok Pegawai Bakso
BACA JUGA:Siaga! Damkar Kabupaten Cirebon Turun Langsung Latih Fire Drill di RS Pertamina
Menjaga alam itu bukan cuma soal adat, tapi juga bentuk tanggung jawab kita kepada Sang Pencipta. Artinya, merusak alam sama saja dengan mengkhianati amanah yang diberi oleh Tuhan.
Istilah "Pamali" sebagai Larangan yang Menyelamatkan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


