Aktivis Soroti FCTM, Dinilai Kehilangan Ruh Perjuangan Pemekaran Cirebon Timur
Aktivis Cirebon Timur, R Hamzaiya Shum. -ist-
CIREBON, RADARCIREBON.COM – Aktivitas Forum Cirebon Timur Mandiri (FCTM) kembali menjadi sorotan publik di Cirebon Timur sendiri.
Para aktivis akar rumput dan penggiat pemekaran menilai, FCTM telah kehilangan ruh pergerakannya.
Aktivis Cirebon Timur R Hamzaiya Shum secara terbuka menyampaikan, kondisi internal FCTM saat ini menunjukkan absennya karakter dasar sebuah gerakan rakyat.
Menurutnya, saat ini FCTM tidak tampak militansi, keberanian moral, maupun keterhubungan emosional dengan penderitaan dan harapan masyarakat bawah, yakni sebuah unsur yang seharusnya menjadi fondasi utama perjuangan pemekaran.
BACA JUGA:Arus Lalu Lintas Tol Cipali H+4 Natal Terpantau Lancar, Kendaraan ke Jakarta Menurun
BACA JUGA:Polresta Cirebon Hadirkan Hiburan Polwan di Rest Area KM 229B, Pemudik Nataru Terhibur
“Gerakan itu hidup dari kegelisahan, dari ketidakpuasan terhadap ketidakadilan. Jika didalamnya tidak ada aktivis yang berani turun, mendengar, dan bersentuhan langsung dengan rakyat, maka yang tersisa hanyalah forum kosong. Hari ini, di FCTM, nadi itu nyaris tidak berdetak,” tuturnya.
Ia menilai, FCTM telah menggeser orientasi perjuangan dari kerja-kerja ideologis dan advokatif menjadi sekadar aktivitas simbolik.
Forum yang seharusnya menjadi alat konsolidasi rakyat justru berubah menjadi ruang pertemuan nyaman yang jauh dari denyut sosial Cirebon Timur.
“Tidak ada yang salah dengan usia atau status pensiun. Tetapi ketika sebuah gerakan dikendalikan oleh mereka yang tidak lagi memiliki keterikatan langsung dengan realitas sosial rakyat, maka gerakan itu kehilangan daya dobraknya. Pemekaran bukan kegiatan pengisi waktu luang,” ujarnya.
Hamzaiya juga menyoroti gaya dan pola kegiatan FCTM yang dinilai semakin elitis dan seremonial. Agenda-agenda yang berlangsung di ruang-ruang nyaman.
BACA JUGA:Geger! Refleksi Akhir Tahun FCTM Digelar di Kuningan, Aktivis KPCT Langsung Murka
Dia mengungkapkan, hal ini menjadi simbol keterputusan antara FCTM dengan kondisi riil masyarakat Cirebon Timur yang masih bergulat dengan persoalan ekonomi, akses layanan, dan ketimpangan pembangunan.
“Rakyat sedang bertahan hidup, pelaku usaha lokal berjuang menjaga napas ekonomi wilayah, tetapi forum yang mengklaim membawa aspirasi justru tidak hadir di tengah mereka. Ini bukan sekadar ironi, ini pengkhianatan terhadap makna perjuangan,” katanya.
Lebih jauh, ia mengingatkan, sejarah pergerakan di Indonesia selalu digerakkan oleh aktivis-aktivis tulen yang bekerja dalam keterbatasan, tekanan, dan risiko.
Tidak ada satu pun perubahan besar yang lahir dari kenyamanan atau rutinitas formal tanpa keberanian politik.
“Jika FCTM terus dibiarkan tanpa koreksi serius, maka ia berpotensi kehilangan legitimasi di mata publik. Masyarakat tidak butuh forum yang sibuk dengan eksistensi internal, tetapi membutuhkan gerakan yang benar-benar membela kepentingan mereka,” ujar Hamzaiya.
Ia menegaskan, kritik ini bukan serangan personal, melainkan peringatan keras agar FCTM kembali ke khitah perjuangan.
Tanpa aktivis yang hidup bersama rakyat, tanpa keberanian melawan arus, dan tanpa keberpihakan yang jelas, perjuangan pemekaran hanya akan menjadi slogan tanpa isi.
BACA JUGA:Harlah ke-3, FCTM Tegaskan Komitmen Perjuangkan Pemekaran Cirebon Timur Hingga Jadi DOB
“Sejarah akan membedakan mana gerakan sejati dan mana sekadar perkumpulan. Dan hari ini, FCTM sedang berada di titik penentuan: bangkit kembali sebagai pergerakan rakyat, atau tenggelam sebagai forum yang kehilangan arah,” pungkasnya.
Sebelumnya, FCTM menggelar kegiatan refleksi akhir tahun di Villa Panawuan, Kabupaten Kuningan, Senin 29 Desember 2025.
Agenda tersebut menjadi sorotan setelah lokasi pelaksanaannya dinilai tidak sesuai dengan semangat perjuangan pemekaran wilayah Cirebon Timur.
Berdasarkan surat undangan yang beredar, kegiatan bertajuk Refleksi Akhir Tahun Perjalanan FCTM 2025 itu dijadwalkan berlangsung pada pukul 13.00 WIB.
Surat undangan tersebut ditandatangani oleh Ketua FCTM KH Taufikurrahman Yasin serta Sekretaris Umum FCTM, Dr H Taufik Ridwan MHum, dan ditujukan kepada segenap aktivis serta penggiat forum.
Namun, pelaksanaan agenda tersebut memunculkan kritik dari berbagai pihak, terutama dari internal gerakan masyarakat yang selama ini fokus memperjuangkan pemekaran wilayah Cirebon Timur menjadi daerah otonomi baru (DOB).
Hingga berita ini diturunkan, pihak FCTM masih belum memberikan pernyataan resmi menanggapi kritik tersebut. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: reportase


