Daya Motor

Masuk Puncak Musim Kemarau Ekstrem, Ada Anomali Iklim

Masuk Puncak Musim Kemarau Ekstrem, Ada Anomali Iklim

Sebagian besar wilayah Indonesia akan masuk puncak musim kemarau ekstrem. Foto hanya ilustrasi.-Foto: BMKG-radarcirebon.com

RADARCIREBON.COM - Sebagian besar wilayah Indonesia akan masuk puncak musim kemarau ekstrem.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Termasuk sektor pertanian.

Menurut BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia tengah bersiap menghadapi puncak musim kemarau ekstrem yang diperparah oleh fenomena anomali iklim El Nino.

Berdasarkan pantauan data iklim terbaru, fenomena El Nino tersebut diprediksi terus berkembang hingga berpotensi mencapai intensitas yang kuat.

BACA JUGA:Kasus Penganiayaan Perempuan oleh Oknum Polisi Viral, Polda Jateng Ambil Langkah Tegas

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa hingga

pertengahan Juni 2026, sekitar 37,6 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau.

Selain itu, data terkini mencatat sebanyak 47,16 persen wilayah Indonesia juga telah mengalami curah hujan dengan intensitas di bawah normal.

"Bahkan, pada periode Juli hingga Oktober 2026 nanti, lebih dari 80 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal. Adapun puncak musim kemarau diproyeksikan akan terjadi pada kisaran bulan Juli hingga September," ujar Ardhasena dalam keterangan resminya.

BACA JUGA:Babak 16 Besar Piala Dunia 2026 Resmi Dimulai, Duel Portugal vs Spanyol Jadi Sorotan

Lebih lanjut, Ardhasena menjelaskan bahwa penguatan intensitas El Nino ini akan berdampak langsung pada pengurangan volume curah hujan secara signifikan di sebagian besar wilayah nusantara.

Kondisi anomali ini berpotensi menyebabkan musim kemarau tahun ini berlangsung jauh lebih kering dan dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menyikapi ancaman kekeringan tersebut, BMKG mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk segera melakukan langkah-langkah antisipasi dini dan adaptasi mandiri sesuai dengan karakteristik kebutuhan wilayah masing-masing.

Secara khusus, perhatian besar diberikan pada stabilitas sektor ketahanan pangan nasional.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait