MoU Penghentian Perang AS-Iran Rapuh, Mahfuz Sidik: Perang di Timur Tengah Bisa Berlanjut
Mahfuz Sidik-DOK-Radar Cirebon
MoU Penghentian Perang AS-Iran Rapuh, Mahfuz Sidik: Perang di Timur Tengah Bisa Berlanjut
JAKARTA, RADARCIREBON.COM - Analisis Dunia Islam dan Timur Tengah (Timteng) Mahfuz Sidik mengatakan, seluruh negara di dunia menyambut baik penandatangan satu kesepakatan atau MoU (memorandum of Understanding) mengawali peperangan antara Amerrika Serikat (AS) dan Iran pada 18 Juni 2026 lalu, yang difasilitasi Pakistan, kecuali Israel.
Penegasan itu disampaikan Mahfuz Sidik dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema 'Prospek MoU Islamabad: Damai Permanen atau Perang Babak Baru?' pada Jumat (3/7/2026) malam.
“Seluruh negara-negara di dunia menyambut dengan baik terhadap kesepakatan ini, kecuali satu negara saja yang sejak awal melakukan penolakan secara terbuka. Negara itu adalah Israel,” kata Mahfuz.
Oleh karena itu, menurut Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) ini, cukup banyak pelanggaran yang terjadi yang dilakukan Israel paska MoU ini diberlakukan.
BACA JUGA: Pemkab Cirebon Gelontorkan Rp1,6 Miliar untuk RSUD Waled, Sistem Hydrant Akhirnya Dibangun
“Sebagai pihak yang terlibat dalam MoU ini, Israel banyak melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan ini,” katanya.
Sementara itu, masyarakat AS menginginkan peperangan tahap kedua dengan Iran ini segera diakhiri untuk melanjutkan perundingan atau negosiaasi menuju kesepakatan akhir melalui MoU untuk saling pengertian, saling memahami untuk memperkuat perang melalui satu perjanjian.
Apalagi Presiden AS Donald Trump mendapatkan tekanan publik domestik dan dunia internasional agar perang dengan Iran segera dihentikan, karena menimbulkan situasi geopolitik global dan krisis yang semakin dalam.
“Sehingga Senat Amerika Serikat meloloskan Resolusi Kewenangan Perang (Resolusi Kekuatan Perang) untuk membatasi kewenangan Presiden Donald Trump dalam melancarkan aksi militer lanjutan terhadap Iran,” katanya.
BACA JUGA: CIMB Niaga Perkuat Peran OCTO Dampingi Keluarga Indonesia, Solusi Finansial, Wujudkan Beragam Impian
Namun, yang menjadi pertanyaan banyak pihak, bagaimana prospek MoU tersebut, apakah dapat mengantarkan AS, Israel dan Iran ke situasi damai yang permanen atau justru akan membuka jalan bagi babak perang baru di kawasan Timteng.
Komisi I DPR 2010-2017 ini mengungkapkan, ada 14 poin dalam MoU tersebut yang disepakati. Pada intinya, AS mengakomodasi semua permintaan Iran dalam proposalnya.
“Kesepakatan ini memang cukup mengejutkan ketika Amerika Serikat dalam perundingan ini melakukan pressure, bukan hanya pressure by diplomacy, tapi pressure by power ya pada akhirnya mengakomodasi seluruh proposal dari Iran. Ini mengundang tanda tanya? katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

