BPS Tegaskan Desil Bukan Penanda Orang Kaya atau Miskin, Ini Cara Membacanya
Badan Pusat Statistik (BPS)--
JAKARTA, RADARCIREBON.COM – Istilah desil belakangan ramai diperbincangkan masyarakat, terutama ketika dikaitkan dengan kondisi ekonomi keluarga dan penerima berbagai program bantuan pemerintah.
Namun, Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa desil bukanlah label yang secara permanen menunjukkan seseorang termasuk kelompok miskin, menengah, atau kaya.
Direktur Statistik Kesejahteraan Rakyat BPS Budi Setiawan menjelaskan, desil merupakan posisi relatif kesejahteraan sebuah keluarga dibandingkan dengan keluarga lainnya di Indonesia.
BACA JUGA:KDKMP Perluas Peluang Kerja Masyarakat Desil 1-4, Target Kemiskinan Ekstrem Nol Persen 2026
Dengan demikian, angka desil seharusnya dibaca sebagai posisi dalam pemeringkatan statistik, bukan sebagai penanda kelas ekonomi seseorang.
“Desil harus dibaca sebagai posisi relatif, bukan sebagai label kelas ekonomi,” ujar Budi, dikutip dari jpnn.com, Senin 24 Agustus 2026.
Populasi Dibagi Menjadi 10 Kelompok
Dalam sistem tersebut, seluruh populasi keluarga di Indonesia dibagi ke dalam 10 kelompok besar.
Masing-masing kelompok atau desil mencakup sekitar 10 persen keluarga berdasarkan posisi kesejahteraannya.
Semakin tinggi posisi desil, bukan berarti otomatis sebuah keluarga dapat disebut kaya.
Sebaliknya, keluarga yang berada pada desil rendah juga tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai keluarga miskin.
BACA JUGA:Komisi IV DPRD Bahas Pemberlakuan Layanan Sosial Berbasis Desil/DTSEN
BPS menggunakan pendekatan Proxy Means Test (PMT) untuk menentukan posisi sebuah keluarga.
Metode tersebut mempertimbangkan berbagai karakteristik sosial dan ekonomi, bukan hanya pendapatan atau pengeluaran bulanan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: reportase

