Sekilas Mengenal Pangeran Suryanegara

Selasa 20-10-2020,17:30 WIB
Reporter : Husain Ali
Editor : Husain Ali

 

Di sekitar area pemakaman tersebut begitu rindang karena terdapat banyak pohon-pohon yang sangat tinggi dan besar yang diperkirakan berumur ratusan tahun. Seperti sawo kecik, kesambi, kepuh, dan mundu.

 

Selain itu terdapat pula pohon Nagasari yang sudah sangat langka, yang ada di area pemakaman Suryanegara. Selain di pemakaman Suryanegara, pohon Nagasari tumbuh di tempat pemakaman Gunung Sembung, Astana Gunungjati.

 

\"Sebelumnya makam ini terbuka seperti makam padam umumnya. Namun, pada tahun 1973 makam Pangeran Suryanegara yang berdampingan dengan makam istrinya yakni Nyai Ambet Kasih yang keturunan Galuh itu dibuat cungkup (bangunan) dengan biaya dari seorang donatur,\" ujar Raden Lili Alida juru pelihara situs makam Pengeran Suryanegara kepada radarcirebon.com, Selasa (20/10).

 

Dijelaskan Raden Lili, sebagai seorang penentang kekuasaan Kolonial Belanda, Pangeran Suryanegara harus hidup di luar keraton. Dan ini tidak lain disebabkan pada masa itu keraton sudah ada dalam kontrol pemerintah kolonial Belanda.

 

Pada awalnya, Pangeran Suryanegara dimakamkan di Gunung Sembung, Desa Astana, Gunungjati. Pemindahan jasad dilakukan karena adanya keberatan pihak Keraton Kasepuhan jika ia dimakamkan di tempat itu.

 

Keberatan pihak keraton ini terkait dengan penentangannya atas kekuasaan Belanda. Khususnya campur tangan Belanda dalam kehidupan keraton.

 

\"Karena beliau ini orang sakti dan setelah bermunajat kepada Allah, Pangeran Suryanegara akhirnya dimakamkan dengan syarat tanah dan pohon yang sama seperti di Gunungjati. Nah, di tempat inilah (Wanacala, red) ditemukan tanah dan pohon yang sama,\" jelasnya. (rdh)

 

https://youtu.be/f46xZJT7f-Y

 

Tags :
Kategori :

Terkait