Pemerintah Bimbang Soal Kebijakan Menaikkan Harga BBM Subsidi

Selasa 23-08-2022,19:57 WIB
Editor : Moh Junaedi

Radarcirebon.com,   JAKARTA – Pemerintah hingga saat ini belum memutuskan untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi.

Sebab, pemerintah masih mempertimbangkan banyak faktor dalam mengambil kebijakan menaikkan harga BBM subsidi.

Kendati demikian, apabila harga BBM subsidi  jenis pertalite dan solar tak dinaikan, maka anggaran subsidi di sektor energi akan defisit hingga Rp198 triliun hingga akhir tahun 2022.

BACA JUGA:Sadis Banget, Temannya Serangan Jantung Malah Dikunci di Mobil, Lalu Kunci Dibuang

Menurut Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati apabila BBM subsidi harganya tidak   dinaikan, maka akan menggerus APBN Rp198 triliun.

Pihaknya mengungkapkan subsidi BBM senilai Rp502 triliun yang sudah diberikan pemerintah tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan pertalite dan solar hingga akhir tahun.

“Kita perkirakan subsidi harus nambah bahkan mencapai Rp198 triliun. Kalau kita tidak menaikkan BBM, tidak dilakukan apa-apa, tidak dilakukan pembatasan maka (subsidi) Rp502 triliun tidak akan cukup. Nambah lagi bisa mencapai Rp698 triliun,” katanya, Selasa 23 Agustus 2022.

BACA JUGA:Hasil Persib vs Bali United: Skor Akhir 2-3, Maung Bandung Dihajar Serdadu Tridatu

Dia menyebutkan, sepanjang tahun 2022 subsidi energi mengalami kenaikan tiga kali lipat. Mulai dari Rp158 triliun menjadi Rp502,4 triliun.  

Namun ternyata, dana Rp502,4 triliun belum cukup untuk menutupi kebutuhan subsidi BBM hingga akhir tahun.

Subsidi energi terakhir dinaikkan pada Juli menjadi Rp502,4 triliun melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 98/2022 sebagai konsekuensi agar tidak menaikkan harga BBM, LPG dan tarif listrik di tengah harga energi dunia yang melonjak.

BACA JUGA:Penjualan Hyundai di GIIAS 2022, Stargazer Mendominasi, Ada 3.619 Pesanan

Kenaikan subsidi energi menjadi Rp502,4 triliun pada Juli lalu dilakukan dengan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar 100 dolar per barel, kurs Rp14.450 per dolar AS, dan volume 23 juta kiloliter hingga akhir 2022. (jun)

 

Kategori :