Menurut H Abung, tokoh masyarakat Desa Ciherang, keberadaan kuburan tersebut terkesan dibiarkan.
Karena menurut H Abung, 'penghuni' kuburan seperti menolak setiap kali lokasinya hendak dirapihkan.
Kuburan tersebut, disinyalir makam seorang penari ronggeng yang terkenal di masanya, yang berasal dari Desa Ciherang.
BACA JUGA:Mitos Janda Desa Padarek, Sulit Menemukan Cinta Kedua
Penari ronggeng tersebut bernama Nyi Ratna Herang, tewas terkena ilmu dua jawara yang memperebutkan dirinya saat pentas.
Sebelum meninggal, Nyi Ratna Herang sempat mengeluarkan kutukan yang ditujukan untuk warga sekitar.
Kutukan tersebut akan menimpa kepada semua anak gadis. Para anak gadis akan mati sebelum mereka berumur 19 tahun.
Kutukan tersebut dipercaya oleh warga sekitar, sehingga yang memiliki anak gadis, akan diungsikan ke luar Kabupaten Kunnigan.
BACA JUGA:Mengenal Sosok Maria Ulfah, Anak Bupati Kuningan yang Mengusulkan Perundingan di Linggarjati
Para anak gadis tersebut boleh kembali ke kampung halaman ketika usia mereka sudah lebih dari 19 tahun.
Mengenai cerita tentang kutukan Nyi Ratna Herang, H Abung tidak setuju, namun dirinya tidak bisa menolak cerita yang sudah berkembang di masyarakat luas itu.
"Nyi Ratna Herang bukan penari ronggeng, tetapi putri raja yang dikejar-kejar oleh kakak iparnya karena ingin dijadikan istri kedua," cerita H Abung.
BACA JUGA:Kisah Goa Dalem Palimanan, Dihuni Siluman Pemakan Bayi
Sungai Cisanggarung
Sungai Cisanggarung merupakan sungai terpanjang yang dimiliki oleh Kabupaten Kuningan.
Sungai Cisanggarung berhulu di Waduk Darma dan berakhir di Laut Jawa yang melintasi 3 Kabupaten.