
“Sejauh pengetahuan saya, saya belum pernah dengar ada sekolah lain di Indonesia bahkan di luar negeri yang mewajibkan mata pelajaran ini bagi santri- santrinya,” ungkapnya.
Yang kedua, tidak hanya melalui teori saja dengan belajar Metodik Didaktik, di Al Zaytun-lah dirinya memiliki pengalaman pertama bisa menjadi pengajar dan pendidik.
“Alhamdulillah, sejak kelas 1 aliyah, saya dan kurang lebih 20-an teman yang masuk dalam kelas khsus. Di kelas itu, selain diamanahi sebagai wali kamar bagi yunior-yunior kami di kelas tsanawiyah, juga diamanahi untuk mengajar mereka,” jelasnya.
Dia mengajar khususnya di kelas 1 dan 2 tsanawiyah. Konsekuensinya, dirinya harus lebih banyak di gedung pembelajaran. Dari pukul 7-9.30 adalah jadwal mengajar. Kemudian pukul 9.30-12.00 dan 15.30-17.30 adalah jadwal belajar. Diselingi sholat dan istirahat dari pukul 12.00-15.30.
BACA JUGA:Usai Diperiksa 2 Sebagai Saksi Atas Dugaan Korupsi BTS Kominfo, Dito Ariotedjo Beri Klarifikasi
Faktor terakhir, tambah dia, inilah yang paling berkontribusi. Yakni mendapat contoh langsung dari guru yang mengajar dan mendidik dengan tulus dan ikhlas.
“Di antaranya dengan mengorbankan lebih banyak waktu untuk kami, dibandingkan dengan waktunya bersama anak-anaknya sendiri,” tambahnya.
Dirinya pun yakin motto Al Zaytun “Mendidik dan membangun semata-mata hanya untuk beribadah kepada Allah SWT” yang melatarbelakangi pengorbanan para dewan guru.
“Saya yang saat ini juga telah menjadi orang tua, jelas sangat bisa merasakan, jika bukan karena niat yang tulus ikhlas nan mulia ini, maka sungguh akan sangat berat untuk menjadi pengajar di Al Zaytun,” ungkapnya lagi.
BACA JUGA:Sejumlah Pekerjaan di Seksi 4B Belum Rampung, Tol Cisumdawu Diprediksi Mundur Lagi
Akumulasi dari tiga faktor itu, yang menjadikan Mihtahul Ulum menjadi finalis WATE 2023, di salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia! Kampus itu jika merujuk ke National Student Survey 2022, berada di peringkat 1 in Russell Group for politics in all categories. (*)