“Untuk yang bekerja di area tambang Gunung Kuda saja ada lebih dari 90 orang,” katanya.
“Otomatis, mereka juga menjadi tulang punggung untuk keluarganya. Lalu, untuk yang bekerja di pabrik pengolahan batu alam juga terancam," imbuhnya.
Maman menyebut bahwa warga kini mulai merasakan dampak dari penutupan tersebut. Pemerintah Desa Cipanas pun tidak bisa berbuat banyak.
Sejauh ini hanya menyarankan alih profesi untuk warga yang kehilangan pekerjaan tersebut.
“Kalau asalnya kan warga sini itu adalah petani. Setelah beroperasinya tambang secara masal dan juga mulai banyak pabrik-pabrik pengolahan batu alam, banyak warga yang beralih ke tambang. Karena kan dapat duitnya cepat, bisa harian,” ujarnya.
“Nah sekarang ditutup. Paling untuk sementara kami menyarankan mereka untuk kembali ke pertanian. Karena memang setelah banyak yang ke tambang itu, di pertanian banyak yang kekurangan tenaga," sambung Maman.
Namun lebih daripada itu, Maman berharap ada perhatian dari pemerintah, entah dari Pemerintah Kabupatan Cirebon, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, hingga pusat untuk membantu permasalahan yang dialami pekerja yang terdampak dari penutupan Gunung Kuda.
Pasalnya, selain dari Desa Cipanas, Gunung Kuda juga telah memberi penghidupan bagi warga di banyak desa di Kecamatan Dukupuntang dan sekitarnya.
Terkait prosedur penambangan yang dipersoalkan, Maman berharap pemerintah mampu mencari solusi agar aktivitas tambang bisa tetap berjalan dengan aman dan sesuai ketentuan.
“Kalau dari kami sih setuju-setuju saja dengan penutupan (Gunung Kuda) ini. Apalagi alasannya karena ada kesalahan prosedur yang bisa bikin celaka pekerjanya. Tetapi bagaimana nasib pekerjanya? Kan perlu juga dipikirkan," katanya.