"Fenomena seperti MJO (Madden Julian Oscillation), gelombang atmosfer, gelombang Kelvin, dan Rossby saat ini cukup aktif dan berkontribusi terhadap meningkatnya curah hujan, khususnya di wilayah Ciayumajakuning,” ujar Fuad.
BACA JUGA:SMA Islam Al Azhar 5 Cirebon Gelar Karya Kreasi P5
Dijelaskannya, meskipun musim kemarau telah dimulai, frekuensi hujan masih cukup tinggi akibat gangguan atmosfer tersebut. Kondisi ini berpotensi berdampak pada berbagai sektor, terutama pertanian dan perikanan.
"Kalau disebut sebagai kemarau basah, rasanya masih terlalu dini untuk disimpulkan. Saat ini, kita tetap menyebutnya musim kemarau," imbuhnya.
Disamping itu, karena hujan masih sering turun, petani sebaiknya mulai menyesuaikan dengan menanam tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi tersebut.