Wilayah Majalengka Bakal Dibagi Jadi Dua Poros

Kamis 10-07-2025,18:32 WIB
Reporter : Tatang Rusmanta
Editor : Yuda Sanjaya

"Infrastruktur adalah kunci. Dengan anggaran yang terbatas, kita dorong sinergi dengan berbagai pihak," katanya.

Menjelang masa libur nasional, Pemkab Majalengka juga meningkatkan koordinasi lintas sektor. 

Sejumlah personel dari Satpol PP, Dishub, dan para camat, dikerahkan untuk mengatur lalu lintas dan menyiapkan jalur alternatif di kawasan wisata.

"Kita belajar dari lonjakan pengunjung saat Idul Fitri kemarin jalur macet, parkir penuh, infrastruktur kewalahan. Maka dari itu, kita benahi sejak sekarang," tegas Dena.

BACA JUGA:Mahasiswa FEB UGJ Observasi di PT Handmade Baskets: Harmoni Kebutuhan Dasar dan Aktualisasi Diri

Di sisi utara, pembangunan kawasan industri terus dikembangkan, memanfaatkan kedekatannya dengan Bandara Internasional Kertajati dan zona ekonomi baru. Industri tekstil, makanan, dan garmen menjadi sektor unggulan.

"Kita harus menyeimbangkan antara industri dan pariwisata. Tidak bisa hanya mengandalkan satu sektor saja," ujar Dena.

Majalengka juga terus mendorong pengembangan destinasi unggulan seperti Terasering Panyaweuyan, Situ Cipanten, Paralayang Sidamukti, Curug Cipete, dan Grand Canyon Cikadongdong.

"Majalengka punya potensi besar untuk menjadi tujuan wisata alam unggulan di Jawa Barat. Tinggal bagaimana kemasan, promosi, dan akses jalannya,” ucapnya.

BACA JUGA:Harapan Andi-Irmawati Terwujud, Mencari Keadilan untuk Buah Hati Akhirnya Didampingi Pengacara

Sementara itu, Bupati Majalengka, Eman Suherman, menargetkan pembangunan Jalan Lingkar Selatan sepanjang 29,56 kilometer dapat segera diselesaikan.

Untuk mendukung hal itu, Pemkab telah mengajukan anggaran sebesar Rp26 miliar ke Pemprov Jawa Barat.

"Jangan setengah jalan. Kami usulkan pembangunan jalan selebar tujuh meter karena sebagian besar lahannya milik Perhutani yang masih tersedia," ujar Eman.

Menurutnya, Jalisma akan memangkas waktu tempuh dari Majalengka ke Lemahsugih menjadi hanya 45 menit. Sebelumnya, perjalanan harus memutar jauh melalui Cihaur atau Talaga. 

Efek dominonya diyakini mampu menggerakkan perekonomian di wilayah selatan seperti Cikawuan, Kadut, Lemahsugih, dan Bantarujeg.

"Kalau konektivitas selesai, daerah selatan akan hidup. Ekonominya bergerak. Itu yang kami kejar," tandasnya.

Kategori :