Jabar Media Summit 2025: Menakar Peluang Industri Media di Era Digital

Kamis 11-09-2025,14:48 WIB
Reporter : Tatang Rusmanta
Editor : Yuda Sanjaya

BACA JUGA:Tunjukan Kendaraan Ramah Lingkungan, Yamaha Masuki Fase Studi Kendaraan Listrik dengan Sistem Swap Battery

“Hal ini yang bisa membuat kami bisa survive hingga sampai saat ini kami belum pernah melakukan layoff,” ungkapnya.

Tantangan yang dihadapi media saat ini tidak sedikit. Suwarjono merinci sepuluh tantangan besar, mulai dari penurunan trafik berita, efisiensi anggaran iklan pemerintah, disrupsi AI, perubahan perilaku audiens, hingga dominasi platform digital dalam periklanan. 

“Saya kira ini menjadi PR bagi kita, dan ini akan mengubah kondisi media saat ini,” tegasnya.

Namun di balik tantangan, terdapat peluang yang tak kalah besar. Suwarjono menyebut bahwa media kecil justru lebih berpeluang untuk hidup dan sustain. 

“Di antaranya konsolidasi dan optimasi aset digital, media sebagai jembatan, ekosistem/showcase, hingga karakter channel dan monetisasi,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya memahami posisi media dalam rantai industri. 

“Salah satu peluang yang cukup besar di luar media, adalah anatomi komposisi kita, apakah posisi kita di industri hulu atau di industri hilir yang masuk langsung ke konsumen," katanya.

Sementara itu, CEO Tempo, Wahyu Dhyatmika, menambahkan perspektif tentang peran media dalam demokrasi dan pasar. 

Merurut Wahyu, ada dua sisi bagi perusahaan media yakni value capture dan value creation. 

"Apa manfaat berita kita untuk publik untuk menjunjung demokrasi, apa manfaat yang diberikan kepada pasar,” ujarnya.

Namun, ia mengakui adanya kesenjangan antara nilai yang diciptakan dan nilai yang berhasil dimonetisasi oleh media. 

“Problemnya adalah adanya kesenjangan antara jumlah yang dihasilkan model bisnis ini, dan itu cukup signifikan berdampak pada trafik atau pageview media,” kata Wahyu.

Ia menyebut bahwa pendapatan dari langganan Tempo saja hanya mampu menutup 15 persen biaya produksi. 

“Artinya dengan perubahan media dengan mengandalkan adsense, pageview tidak bisa untuk membiaya biaya produksi redaksi,” jelasnya.

Wahyu menekankan perlunya intervensi negara dalam menghadapi kegagalan pasar. Salah satunya negara harus mengintervensi kegagalan pasar ini untuk melindungi media.

Kategori :