"Kemudian ada juga tambahan dari masyarakat yang memberikan langsung (kencleng). Jika dihitung total ada sekitar Rp2,5 juta per bulannya untuk satu orang. Sementara dua orang pengelola itu untuk estimasi volume sampah untuk 1 ton per hari," beber Aang.
Para pekerja pengelola sampah itu harus bisa shift atau bergiliran karena tidak bisa libur.
Sebab volume sampah itu setiap harinya bakal masuk ke TPS, terutama dihari hari libur nasional.
BACA JUGA:Momen Akhir Tahun Bikin Paket Membludak, Ini Komoditas Terlaris di JNE Cirebon
Aang mengaku pemdes Leuwimunding sudah berkoordinasi dengan Bapelitbangda dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Majalengka terkait pengelolaan sampah kedepannya.
Clean City Project, kata Aang, jelas sangat membantu karena dengan teknologi pemilah sampah otomatis. Sehingga nantinya bisa terpisah antara organik dan anorganik.
"Kemudian lagi nanti ada alat pencacah ranting. Teknologi itu harus ada dan dibutuhkan," tambah Aang.
Penggagas tugu Pahlawan Nasional KH Abdul Chalim Leuwimunding ini mengungkapkan jika kunci ingin sampah beres itu ada empat.
Pertama, soal anggaran. Pemerintah harus siap menganggarkan serius penanganan sampah tersebut hingga kesetiap desa.
Kemudian yang kedua teknologi yang tepat guna. Akan berbeda kelasnya kabupaten dengan desa. Karena produk sampah dan volume dinilai jelas berbeda.
"Baik infrastruktur dan alat alat dilapangan seperti tempat sampah disetiap rumah," imbuh dia.
BACA JUGA:Kabar Baik Awal Tahun! Warga Cirebon Berpeluang Dapat Diskon PBB hingga 50 Persen
Ketika pemerintah sudah memberikan kedua itu, lanjut dia, tentu dikuatkan oleh kebijakan penegakan aturan. Poin ketiga ini untuk menekan masyarakat agar lebih patuh terhadap aturan.
Aturan itu dibuat bukan untuk mau menghukum masyarakat namun memberikan efek jera. Sehingga nantinya dengan sendirinya masyarakat akan sadar.
"Jadi tidak ada alasan membuang sampah sembarangan karena petugas dan solusi TPS itu sudah ada," tandas dia. (ono)