Kisah Nyata di Balik Program MBG: Pekerjaan, Gaji, dan Martabat yang Kembali

Selasa 27-01-2026,11:37 WIB
Reporter : Ade Gustiana
Editor : Tatang Rusmanta

Gaji datang sebulan sekali, jumlahnya terbatas, dan sering kali habis sebelum akhir bulan tiba.

Perubahan mulai datang ketika dapur lama tempatnya bekerja disewa untuk operasional MBG. Bersama karyawan lain, Kassandra ikut bergeser. Ia bergabung dengan dapur MBG.

BACA JUGA:Jual Motor Curian Lewat Facebook Berujung Ditangkap Polisi, Residivis Curanmor di Kuningan Kini Masuk Bui

Awalnya, ia ditempatkan di bagian penyusunan food tray. Mengatur wadah makanan, pekerjaan teknis yang menuntut ketelitian. Tak lama berselang, tugas barunya datang: menjadi sopir distribusi.

Setiap hari, rutinitasnya dimulai selepas Subuh. Pukul 05.30 WIB, ia sudah berada di dapur. Food tray dimasukkan ke mobil, lalu pukul 07.00 distribusi pertama dimulai. 

Selesai mengantar, ia pulang sebentar, lalu kembali berangkat untuk pengambilan wadah dan distribusi berikutnya ke sekolah lain. Terkadang, pekerjaan baru benar-benar selesai menjelang sore.

“Capek pasti, tapi saya happy,” kata Kassandra saat ditemui, Jumat (23/1/2026).

Bukan jam kerja yang berubah drastis, melainkan rasa aman yang kini ia rasakan. Jika dulu Rp1,5 juta harus ditunggu sebulan penuh, kini jumlah yang sama bisa didapat dalam dua minggu.

“Lebih aman,” katanya singkat, tapi penuh makna.

Bagi Kassandra, rasa aman berarti dapur rumah tetap mengepul. Tiga anaknya bisa sekolah tanpa kecemasan. 

Anak sulungnya yang hampir lulus SMA kini mulai berani bermimpi melanjutkan kuliah—sesuatu yang dulu terasa terlalu jauh untuk dipikirkan.

Lebih dari itu, istrinya juga bekerja di program MBG, meski di dapur berbeda. Istrinya bertugas sebagai koordinator masak malam hari. Pembagian peran itu membuat rumah tangga mereka tetap seimbang.

“Dulu serba susah, sekarang alhamdulillah tercukupi. Sangat terbantu,” ujarnya.

Yosep dan Doa yang Dijawab Lewat Pekerjaan

Cerita Yosep Fucari Naibaho (47) berjalan lebih sunyi, tapi tak kalah kuat. Pria asal Medan yang kini tinggal di Lemahwungkuk, Kota Cirebon, itu hampir tak pernah memiliki pekerjaan tetap sejak menikah pada 2002.

Kategori :