Ia dikenal sebagai aktivis gereja. Terlibat dalam berbagai pelayanan, komunitas, dan kegiatan sosial. Hidupnya dihabiskan untuk melayani sesama. Soal penghasilan, ia jarang memikirkannya.
“Saya cuma berdoa, Tuhan, saya mau bekerja,” katanya lirih.
Dua hari setelah doa itu dipanjatkan, telepon berdering. Yang menghubunginya adalah seseorang dari Yayasan Inspirasi Indah Bersama. Menawarkan bergabung sebagai relawan.
Awalnya Yosep bingung. Relawan apa? Dua hari kemudian, jawabannya jelas: Makan Bergizi Gratis.
Ia Katolik. Yang mengajak berasal dari latar belakang partai berbasis Islam. Namun di MBG, semua sekat itu seakan tak berarti. Yosep justru merasakan toleransi yang tulus.
“Ini yang saya senangi. Tidak ada perbedaan,” ujarnya.
Sejak Agustus 2025, Yosep mulai bekerja. Datang sebelum pukul enam pagi. Fokus awalnya mengantar makanan ke posyandu—balita dan ibu hamil menjadi prioritas. Setelah itu, distribusi berlanjut ke sekolah-sekolah.
Pekerjaannya berulang. Mengantar, mengambil wadah, membersihkan, lalu kembali lagi keesokan hari. Lelah tentu ada. Tapi ada rasa lain yang menutupinya.
“Suka cita,” katanya.
Saat gaji pertama diterima, Yosep tak membelanjakan apa pun untuk dirinya. Seluruhnya ia serahkan kepada sang istri. Momen itu membuatnya terharu.
“Baru saat itu saya merasa jadi suami seutuhnya,” ucapnya.
Sebelumnya, keluarga mereka hanya mengandalkan usaha kecil sang istri membuat roti. Penghasilan sering tak mencukupi. Kini, meski hanya Yosep yang bekerja, satu rumah ikut merasakan manfaatnya.
Anaknya yang duduk di kelas VII SMP kini memiliki masa depan yang lebih terang.
MBG: Ekosistem Kerja yang Nyata
Kisah Kassandra dan Yosep hanyalah dua potret kecil dari dapur MBG Kesambi Baru. Di balik program makan gratis, MBG ternyata menciptakan ekosistem kerja yang hidup hampir 24 jam.
Ada juru masak, ahli gizi, tim distribusi, pencuci wadah, koordinator, hingga sopir dan kenek. Semua digerakkan oleh pekerja dan relawan lokal. Upahnya mungkin bukan yang tertinggi, tapi stabil, teratur, dan pasti.